A specter is haunting the world—the return of capitalism. Fareed Zakaria menulis sebaris kalimat itu pada awal esainya, The Capitalist Manifesto, di Newsweek, Juni 2009 silam.
Kita tahu, tentu saja Zakaria sengaja memelintir pasase Karl Marx yang teramat masyhur itu. Zakaria hendak mengingatkan kita, setelah dilimbur krisis keuangan pada 2008, kapitalisme masih sehat-sehat saja; bahkan akan kembali dengan lebih gila dan urakan.
Ya, tahun 2008 adalah fase genting dalam sejarah perkembangan kapitalisme, ketika krisis memuncak, dimulai dari meletusnya problem kredit perumahan yang buruk di Amerika Serikat.
Kapitalisme jadi tong sampah kekesalan orang ramai. Bak gelombang radio, krisis tak terlihat, namun nyata kita rasakan. Sektor finansial dunia terjun bebas. Indeks saham berjatuhan. Sejumlah bursa saham, termasuk Bursa Efek Indonesia (BEI), bahkan memutuskan untuk meliburkan diri agar kejatuhan harga saham bisa direm sejenak. Brankas lembaga keuangan kering. Banyak bank tutup usia. Belum ada angka pasti kerugian akibat turbulensi finansial global, tapi ada yang meyakini angka kerugian tembus hingga US$4 triliun.
Tak cukup lama sebelum Zakaria menulis esai itu, David M. Smick, pelaku pasar dan pakar yang pernah menjadi penasihat ekonomi presiden AS, di buku The World is Curved, merasakan gigir kecemasan yang luar biasa di tengah derasnya berita soal kejatuhan pasar.
Di pagi yang cerah, di Wetmoor Club, Nantucket, sebuah pulau wisata di lepas pantai
Namun, tak cukup lama ia jenak. Berita di televisi mengabarkan betapa pasar keuangan sedang dihajar cemas, penaka seekor paus muda yang sedang dikepung segerombolan pemburu. Saluran CNBC mewartakan banyak kekhawatiran: omongan ekonom yang bikin gemetar, raut tegang pialang menenangkan kliennya, dan ratap pilu investor tua yang uang tabungannya nyaris amblas.
Tapi, Smick jelas tak cemas. Dia menatap kertas kerjanya dengan tenang. Dadanya, meski berdegup sedikit kencang, tak sampai membuatnya berkeringat dingin. Smick dan Zakaria paham, dan kita juga tahu, krisis 2007-2008 bukanlah yang pertama. Kapitalisme inheren dengan krisis, demikian kita sering mendengarnya.
Tapi, benar kata Zakaria, bahwa ”greed is good”, dan krisis pun terus berulang, hingga waktu itu tiba: 2007-2008 yang risau, di mana harapan terhadap kapitalisme, bukannya memukau, malah menjadi lancung. Satu per satu lembaga keuangan dunia bergelimpangan, penaka sesosok gendut serakah yang memakan apa saja di sebuah pesta yang bingar tapi kemudian mati kekenyangan.
Investor
Sejarah memang mencatat kapitalisme berjalan tersaruk-saruk. Tahun 1637 krisis bertajuk ”Tulip Mania” di Belanda, ”Missisipi Bubble” 1719-1720 di Perancis, ”South Sea’s Fantasy 1720 di Inggris, 1792 di AS, dan terus berulang, seakan déjà vu di banyak tempat: dekade 1820 di Amerika Latin, 1837 di AS, 1840 di Inggris, 1893 di AS, 1907 di AS, 1920 di AS. Belum usai, pada 1929 kita menyaksikan seluruh dunia cemas setelah apa yang disebut sebagai ”the great depression” mengempaskan banyak sektor ekonomi, krisis yang kemudian membuat kita menoleh ke pemikiran Keynes. Lalu, 1986-1990 krisis menghantam Jepang dengan sebutan ”Japan Sinks”; krisis Asia 1997, limbungnya Long-Term Capital Management pada 1998—sebuah fase krisis yang disebut Robert Rubin sebagai ”the worst financial crisis in 50 years”, ”the dot bomb” pada 2000, dan kini kita melihat 2008 yang pilu sesudah transaksi derivatif menggila.
Kita memang berada di tengah gerak sektor finansial dunia yang, dalam bahasa Bjorn Elmbrant, disebut sebagai ”jemaah tanpa pemimpin yang berderap sempoyongan sampai akhirnya limbung tersandung kaki-sendiri”: a leader-less collective staggering about and tripping over its own feet.
Peneguhan
Lantas, apa yang terjadi setelah serentetan krisis ini, setelah tawaran Marxisme tak bergayung sambut? Dulu, dunia masih hangat dengan tawaran Marxisme yang berambisi mematahkan kapitalisme: ketika krisis memuncak, lalu meletuslah revolusi proletariat, dengan atau tanpa letupan senjata, dan terhamparlah masyarakat-tanpa-kelas.
Tapi, krisis ternyata tak mencapai puncak. Puluhan krisis ternyata hanya menjelma tikaman bambu runcing yang teramat tumpul dan cuma meneteskan sedikit darah di tubuh kapitalisme. Selebihnya hampa. Roda kapitalisme berderak kembali. Kalau perlu lebih kencang dan lebih gila dari sebelumnya, ”kita kelaparan untuk kapitalisme yang lebih gila”. Kini kita terluka, tapi ”besok kita bangkit lagi berkelahi”, untuk memakai kata-kata dalam sajak Subagio Sastrowardojo.
Komunisme, juga Marxisme, meminjam kata-kata Goenawan Mohamad, adalah ”masa lampau yang menjauh”, sebuah semangat zaman yang sudah lewat. Harapan memukau Marxisme yang sempat membius banyak negeri, termasuk Indonesia lewat ekonomi terpimpin yang dipraktikkan Soekarno, ternyata patah.
Sejarah perkembangan masyarakat ternyata tak bersilih dari kapitalisme ke sosialisme. Krisis kapitalisme hanyalah akhir dari sebuah "perbincangan" atau sekadar ujung dari "teknik berinvestasi", dan bukannya ”tahapan untuk menuju fase sosialisme”. Krisis Asia 1997-1998 hanya ”akhir dari sebuah perbincangan yang optimistis tentang negara-berkembang”. Kolapsnya Long-Term Capital Management pada 1998 hanyalah ”akhir dari hedge funds”. Dan, 2008 kini adalah krisis yang berarti ”akhir dari transaksi derivatif yang gila-gilaan”.
Tapi selebihnya hampa, nyaris sepi kecuali hanya segerombolan pendemo yang membawa tomat dan telur busuk serta semprotan merica pada pertemuan-pertemuan pemimpin dunia, lalu berteriak parau soal antikapitalisme dan antiglobalisasi; tak ada lagi teriakan revolusi proletariat yang menggairahkan itu.
Kita tahu, pasca-1997-1998, negara-negara Asia kini justru jadi penyelamat perekonomian dunia. Dan, pasca-2008, kita hanya melihat sejumlah regulasi untuk menyeimbangkan perekonomian, juga stimulus fiskal di mana-mana—suatu kebijakan yang sebenarnya membingungkan karena melawan sifat dasar kapitalisme, sebuah kebijakan yang disebut Johan Norberg di esainya, Bailouts, Debt Magnify Risk of Future Economic Troubles (Richmond Times-Dispatch, 20 September 2009) sebagai ”sangat ironis” karena pemerintah justru membantu kapitalis yang punya perangai buruk dan overproduksi.
Apakah kini kapitalisme akan limbung? Sejarah sudah memberi bukti, pascakrisis, kapitalisme bukannya limbung, malah berjaya. Dalam jangka pendek, krisis akan mengurangi kebebasan ekonomi di sebuah negara (seperti kita lihat dalam kebijakan stimulus fiskal di banyak negara pascakrisis dewasa ini). Namun, dalam jangka panjang, kebebasan ekonomi akan kembali seperti sedia kala.
Kita melihat krisis kapitalisme berulang kali, namun banyak negara malah berusaha meningkatkan tingkat kebebasan ekonominya. Sejak 1980, berdasarkan Economic Freedom of The World: 2009 Annual Report (EFW 2009) yang ditulis James D. Gwartney, Robert A. Lawson, dkk, banyak negara tetap setia pada kapitalisme, kendati krisis hadir pada 1896-1990, 1997, 1999, dan 2000. Pada 2007, rerata tingkat kebebasan ekonomi negara-negara mencapai 6,7; lebih tinggi dari posisi 1980 yang sebesar 5,55. Dari 103 negara, 92 di antaranya berhasil meningkatkan skor kebebasan ekonominya dan hanya 11 negara yang tingkat kebebasan ekonominya menurun. Ini menunjukkan masa depan kapitalisme masih memukau orang ramai.
Saat ini, Hong Kong masih menjadi negara dengan tingkat kebebasan ekonomi tertinggi dengan level 8,97 (dalam rentang 0-10). Indonesia tercecer di peringkat 93 dengan tingkat kebebasan ekonomi sebesar 6,3
Nyaris tak ada kemungkinan di luar kapitalisme. Ia kian mantap sebagai jawaban dari pertanyaan tentang masa depan umat manusia. Kapitalisme didaku sebagai akhir sejarah oleh Francis Fukuyama karena ia sanggup membaca, menampung, sekaligus memenuhi hasrat dan keinginan manusia—atau mungkin yang lebih tepat adalah kemampuan kapitalisme dalam menciptakan sekaligus menghegemoni hasrat manusia.
Kapitalisme telah menerobos semua sendi kehidupan. Ia tak hanya mengafirmasi ”rasio instrumental”, logika masyarakat modern yang penuh pamrih dan tendensi, tapi juga memeluk Lebenswelt (dunia-kehidupan), sebuah kondisi di mana ketulusan dipancangkan dalam terminologi Habermas, hingga menjadi sumir.
Kapitalisme membuat gerak manusia ibarat conveyor raksasa yang berderak ke arah yang sama: kesenangan individu, dan dengan demikian kesejahteraan ekonomi. Posmodernisme kini, atau juga hipermodernisme, membuat manusia hanya tertuju pada satu titik tujuan, yaitu kesenangan pribadi. Kelas bersilih rupa menjadi person. Kapitalisme mampu menjawab ini.
Capaian-Capaian Kapitalisme
Saya berbicara tentang kemungkinan bahwa kapitalisme memang merupakan jawaban bagi masa depan kita. Kesenjangan ekonomi memang ada, bahkan sangat lebar. GDP negara-negara kaya berlipat jumlahnya daripada GDP negara miskin. Kekayaan satu korporasi nyaris sama dengan kekayaan sejumlah negara miskin. Di antara 100 unit ekonomi terbesar di dunia, 52 berupa perusahaan dan sisanya adalah negara.
Tapi, hari ini, pergerakan kapitalisme tak cukup disorot sebagai terdakwa. Teramat buru-buru bila kita menuding kapitalisme sebagai biang dari dua problem utama sistem ekonomi yang belum terpecahkan: kemiskinan dan pengangguran. Pasar memang tak melulu punya self-mechanism untuk memperbaiki diri, suatu bahasan yang disebut Adam Smith sebagai the invisible hand. Krisis adalah self-mechanism bagi kapitalisme untuk mengoreksi diri. Maka, akan terjadi ”penyeimbangan kembali, pengaturan kembali, dan pemulihan kembali”.
Kita bisa kaya jika mampu berproduksi, bergerak secara ekonomis. Di banyak lumbung-lumbung kemiskinan, termasuk di Indonesia, kita tahu banyak aset dikuasai oleh rezim yang totaliter. Kita mengenal rezim tiran Soeharto dan kroni-kroninya yang banyak menguasai banyak sektor kehidupan. Kapitalisme menentang praktik usaha tidak sehat ini.
Distribusi kapitalisme barangkali menjadi satu jawaban yang khas tapi kontroversial: selama kapitalisme tak tersebar merata dan dirayakan gegap-gempita, selama itu pula jurang kaya-miskin akan semakin menganga.
Kita ingat buku kontroversial itu, In Defense of Global Capitalism karya Johan Norberg: ”kesenjangan ekonomi bukan karena kapitalisme telah membikin miskin kelompok tertentu, tetapi karena kelompok yang menerapkan kapitalisme membuat mereka menjadi kaya”. Dengan bahasa provokatif, Norberg berteriak lantang, ”The uneven distribution of wealth in the world is due to the uneven distribution of capitalism”.
Kebebasan ekonomi, selain menggerakkan perekonomian dan mengurangi kemiskinan, juga meningkatkan kebebasan berpolitik. Bahkan, Milton Friedman menyebut kebebasan ekonomi sebagai ”a tonic against terrorism”.
Ada serangkaian data kontroversial yang saya kutip dari sejumlah referensi yang akan saya ajukan di sini.
Pertama, kapitalisme dengan sendirinya telah mendorong demokratisasi, kebebasan yang makin memuncak sebagai hasrat terdalam manusia. Kapitalisme bergerak seiring demokratisasi. Laporan Freedom House menyebutkan, pada 2000, lebih dari 62% negara di seluruh dunia telah menjadi negara yang demokratis, di mana di sana 58,2% dari total populasi manusia sejagat tinggal dan saling menghargai satu sama lain.
Kedua, ketidakhadiran kapitalisme justru akan semakin menyengsarakan kaum miskin. Orang miskin, yang melulu ”tidak efisien, tidak efektif, dan ketinggalan teknologi”, bekerja jauh lebih lama dibanding kelompok yang lebih maju. Sebuah survei yang dipajang di buku Michael W. Cox dan Richard Alm, Myths of Rich and Poor: Why We're Better off than We Thing (1999), yang saya kutip dari buku Johan Norberg, memberi kesimpulan menarik: pada 1996, sepanjang hidupnya, seorang Amerika kini hanya bekerja di bawah 100.000 jam dan memiliki sekitar 500.000 jam waktu luang.
Ketiga, kapitalisme meningkatkan kualitas hidup kita. Laporan EFW 2009 menyebutkan, negara yang semakin liberal perekonomiannya, tingkat harapan hidup masyarakatnya semakin tinggi, mencapai hampir 80 tahun. Sedangkan negara yang paling tidak liberal ekonominya, usia harapan hidup warganya hanya 59 tahun. Ini terjadi karena liberalisasi ekonomi meningkatkan kualitas teknologi kesehatan, dan membuat pengelola jasa kesehatan bersaing menyediakan layanan terbaik dan murah bagi konsumen.
Keempat, kapitalisme menjanjikan praktik usaha yang sehat tanpa korupsi, terutama di birokrasi. Data Transparency International yang dihimpun dalam EFW 2009 menyebutkan, negara yang ekonominya liberal, tingkat Indeks Persepsi Korupsi-nya mencapai 7,5 (dalam skala 10; semakin mendekati 10 maka sebuah negara bisa dikatakan bebas korupsi). Sedangkan negara yang ekonominya tidak liberal, Indeks Persepsi Korupsi hanya 2,6. Basis epistemologis hal ini jelas, yaitu dengan sedikit regulasi, pajak, dan retribusi, kebebasan ekonomi dapat mengurangi kesempatan untuk korupsi dan kongkalikong di tubuh birokrasi. Itulah sebabnya kapitalisme menentang habis jual-beli kekuasaan, termasuk yang melibatkan korporasi.
Kelima, kapitalisme, tidak bisa tidak, telah mendorong perbaikan ekonomi. Negara dengan tingkat ekonomi yang sangat liberal, pendapatan per kapitanya mencapai USD 32.443 atau sekitar Rp 324 juta. Sedangkan negara yang tidak liberal ekonominya, pendapatan per kapita warganya hanya USD 3.802 atau Rp 38 juta setahun.
Negara dengan ekonomi yang sangat liberal dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibanding negara yang tertutup dan tidak liberal dengan perbandingan 2,4% berbanding 0,9%. Kebebasan ekonomi juga mampu mendatangkan investasi luar negeri yang gilirannya akan memakmurkan warga. Selama 1990-2007, negara dengan tingkat kebebasan ekonomi yang tinggi mampu mendatangkan investasi langsung luar negeri (foreign direct investment, FDI) sebanyak 16% dari total GDP-nya. Kebalikannya, negara dengan tingkat kebebasan ekonomi yang rendah, hanya mampu mendatangkan FDI sebesar 2,4% dari GDP-nya.
Economic Freedom of The World: 2008 Annual Report (EFW 2008) menyebutkan, selama 1980-2000, di negara berkembang dengan tingkat kebebasan ekonomi tinggi (6-7 dengan rentang 0-10), jumlah penduduk miskin dengan penghasilan USD 1 per hari hanya mencapai 7,7% dari total penduduk. Sementara di negara yang tingkat ekonominya tidak bebas, penduduk dengan pendapatan USD 1 per hari mencapai 29,7%. Untuk tingkat pendapatan USD 2 per hari, di negara berkembang yang ekonominya liberal, jumlahnya hanya 38,9%; berkebalikan dengan negara yang tak liberal ekonominya sebesar 51,5%.
Sebenarnya, masih banyak data yang ingin saya sajikan, mulai dari bagaimana kebebasan ekonomi membawa manusia hidup dengan tingkat kesehatan yang tinggi hingga bagaimana manusia menemukan kebebasan berpolitik yang nyata dalam kebebasan ekonomi. Namun, keterbatasan ruang membuat saya harus lebih irit mengobral kata.
”Di-Luar-Kapitalisme”
Krisis yang terjadi sepanjang sejarah kapitalisme semestinya tak membuat kita bicara soal legalitas, ihwal hukum. Sebab, semua sah di depan kapitalisme: para manajer investasi menaati aturan pasar yang ada, semua surat berharga yang diterbitkan sah. Kalau pun ada penipuan seperti pada kasus Bank Century-Antaboga atau penipuan Madoff, misalnya, itu kriminal murni dan tak ada sangkut-pautnya dengan kapitalisme.
Karena itu, kapitalisme barangkali butuh sesuatu yang ”di-luar-kapitalisme”. Jika kapitalisme adalah sejenis puncak urakan dan kebebasan, maka yang ”di-luar-kapitalisme” adalah semacam rem, kontrol, atau katakanlah etika dan nilai. Yang ”di-luar-kapitalisme” itulah yang selama ini mengontrol dan memberi batas, kadangkala dengan krisis.
Yang pasti, kapitalisme, sebagai sebuah narasi, tak pernah, dan tak akan bisa, usai. Demikian pula tafsir manusia terhadap kehidupan: ia cemas serta gelisah sekaligus memukau dan memberi harapan.
[Namun, benarkah tiada pilihan di luar kapitalisme? Lalu mengapa jurnalis sekaliber Martin Wolf berteriak parau soal kapitalisme? Bagaimana Walden Bello, salah satu rujukan aktivis antikapitalisme dan antiglobalisasi, memandang ini? Apa kata Johan Norberg tentang krisis kontemporer, sesuatu yang jelas lewat dari pembahasan buku kontroversialnya itu? Saya sedang ingin melanjutkan esai sederhana ini di edisi selanjutnya]
Kamis, 08 Oktober 2009
Kapitalisme dan Kemungkinan-Kemungkinannya, 1
disemai oleh
penunggu fajar
saat
05:16
Jumat, 18 September 2009
Pencarian Kesejatian Adlawi
Puisi, pada mulanya, adalah ikhtiar penyair menyampaikan ide (dan nubuat) lewat imaji-imaji yang ia representasikan dalam huruf-huruf di puisinya. Imaji itu ada berserakan di mana-mana, lalu ditangkap oleh indra penyair. Tantangan utama sang penyair adalah mengolah imaji itu untuk dikonkretkan menjadi ide (dan nubuat) ke dalam puisi, terkadang lewat hal-hal yang simbolik.
Persoalan menghadirkan kekuatan ide yang implisit dalam kata-kata di puisi yang sesungguhnya eksplisit setidaknya menjadi salah satu parameter keberhasilan rekam jejak kepenyairan seseorang.
Samsudin Adlawi hadir lewat buku sajaknya, Jaran Goyang. Sebelum ini, jejak kepenyairan Adlawi (khalayak memanggilnya Sam atau Udi) sudah lumayan panjang. Sejumlah sajaknya hadir di beberapa antologi, seperti Interupsi (1994), Cadik (1998), Wirid Muharram (2001), dan Dzikir (2001). Dari jejak kepenyairan itu, buku ini tetaplah menjadi milestone bagi Adlawi dalam menghidupi dunia sastra tanah air.
Tak cukup mudah menelaah sajak-sajak penyair kelahiran Banyuwangi ini. Sajak-sajaknya berpretensi melampaui makna harfiah hal-hal fisikal—kendati dalam beberapa sajak hal tersebut kurang bisa digapai. Di tangan Adlawi, bahasa menjadi teramat problematis (di sampul buku Arif Bagus Prasetyo menyebutnya sebagai ”problematisasi bahasa”), rentan, namun sekaligus mencerahkan atau setidaknya menghadirkan kesegaran baru dalam jagat perpuisian kontemporer di tanah air; seperti bisa kita simak dalam sajak Ci Pinang Ta, Am dan I Mengapit Bis, Mata Mati Mati Mata, Na Belahan Jiwa Nak, Petualangan Se, Sus Mencari U, Sel Imut, Esa, atau Angin Angan Angan Angin.
Mayoritas sajak Adlawi di antologi ini ditatah dengan semangat religiusitas yang menggebu. Adlawi mencoba mendedah sebuah pencarian makhluk yang tak pernah usai terhadap Kesejatian, karena hidup memang sesak dengan hal aksiden-superfisial: lapar-dahaga hanyalah permainan (sajak Menggapai Akhir).
Landasan metafisis yang bersanding dengan jejak kaki Adlawi di bumi membuat mayoritas sajak di buku ini tak berusaha mendekap langit yang tinggi, melainkan mendekatkan imaji manusia tentang Tuhan serekat dan selekat mungkin.Namun, membaca sajak Adlawi tetaplah serupa upaya menapaki "Jalan Cinta" yang paradoks: ia digambarkan teramat terang di kitab suci namun sesungguhnya gelap gulita ketika dijejaki.
Sajak-sajak Adlawi memang hadir dengan semangat spiritual yang tinggi. Meski demikian, sajak-sajaknya bukanlah traktat yang final. Ia tidak secara diametral mempertentangkan antara yang sakral dan yang profan. Kesejatian selalu tak selesai dalam selarik ayat di sebuah kitab tua atau sebaris gumam di hening kebaktian. Kesejatian di sini menjadi sesuatu yang tak selesai digamit, selalu urung direngkuh, melulu sesak dengan berbagai kemungkinan. Puisi Adlawi memang dilahirkan bukan sebagai jalan terang bagi domba-domba yang tersesat. Kesejatian menjadi sesuatu yang remang: ia diafirmasi oleh Adlawi tapi anehnya kemudian dinegasi, begitu seterusnya.
Di sajak Mencari Arah, misalnya, aku-lirik seolah berada di gurun luas yang tak jelas mana pangkalnya. Aku-lirik terus berjalan menuju pangkal, menuju Kesejatian. Ia temui banyak kesejatian (”k” kecil) dalam setiap depa perjalanannya, siang dan malam. Tapi belum pernah dijumpainya Kesejatian (”K” besar): kerna tanpa bulan kau hanyalah kelam, duhai malamku...//kerna tanpa matahari kau hanyalah senja, duhai siangku.
Aku-lirik di sini tampil gahar, keras kepala, dan tak kenal surut melangkah. Ia terus laju melawan badai, sebab hidup memang sebentuk ikhtiar yang tak pernah sudah mendekap yang hakiki, yang kudus, yang sejati. Aku-lirik seolah menjadi majnun: di malam tanpa bulan di bulan tanpa malam/di siang tanpa matahari di matahari tanpa siang/aku terus berjalan mencari arah bertuhan.
Sejumlah sajak lainnya juga, seperti Hati Pelukis, juga menunjukkan betapa Hidup memang selalu tertunda, melulu meminta permakluman akan ketidaklengkapan.
Dalam sejumlah sisi, instuisi kepenyairan Adlawi agaknya lebih lekat dan terasah pada pengalaman spiritualnya daripada segudang teori sastra atau pergumulannya dengan komunitas sastra sejak masih duduk di bangku kuliah. Dengan demikian, puisi, sebagai hasil pengalaman spiritual, menjadi teramat personal—dan dalam banyak aspek butuh pengorbanan-diri.
Dalam pencarian yang sarat nafas religi semacam itu, agaknya Adlawi teramat larut menggemakan kesunyian. Hampir terasa klise, sebenarnya, jika pencarian Kesejatian melulu diasosiasikan dengan suasana yang hening, seperti bisa kita simak dalam sajak Istana Bunyi, Rumah Sepi, dan Kesaksian Malam I.
Namun, tangan dingin Adlawi membuat sajaknya terasa lebih kukuh dan tegar, sehingga kesunyian makin asyik digumuli. Kesunyian justru bersilih menjadi sehimpun pengalaman spiritual yang dilaburi luapan semangat yang ramai dan membuncah: jalan ini setapak berundak/menuju gunung sepi/tak eloklah kau menapak/jika karib kau bukan sunyi (sajak Istana Bunyi).
Dalam pencarian panjang menuju yang hakiki, bagi Adlawi, jika kelak sudah menemukan Jalan, maka pertautan manusia dengan yang hakiki bukan bermakna fisikal, melainkan lebih merupakan pengalaman spiritual yang unik, spesifik, dan dengan demikian personal: ...kali ini aku datang/ke surau hanya membawa jiwa/kerna badanku dipakai sajadah/musafir yang baru kembali menemukan arah menuju (sajak Sajadah).
Sajak-sajak Adlawi secara umum berfokus pada kegelisahan eksistensial, sehingga puisi dibawa pada situasi yang cenderung senyap. Tak heran, kebanyakan puisi Adlawi serupa dialog-dalam-diri: menggumam meski terkadang disampaikan dengan ungkapan yang lantang.
Namun, bukan berarti sajak-sajak Adlawi melulu berisi tema tersebut. Ada kalanya Adlawi melukiskan kecintaan pada tanah kelahiran, sebuah sikap yang terasa ganjil di tengah boyaknya identitas dan asal-usul. Sajak-sajak berumbul Pelabuhan yang dikemas secara naratif menunjukkan hasratnya itu: ombak malam ini kuat sekali/seperti sampur penari gandrung/melambailambai datang dan pergi/jilatkan debur cumbui hasrat lelaki/yang mengalangi arena bibir pantai.
Manusia, dalam bayangan Adlawi, barangkali tetap butuh puak—dan mungkin karena itu pula darah bisa tertumpah di banyak tempat.
Ada kalanya pula, Adlawi, seperti kebanyakan manusia kini, merasa gelisah dengan zaman yang kian centang-perenang. Matabatin Adlawi sebagai penyair mencoba menanggapi dunia yang berderak dengan kebopengannya. Maka, penyair ingin dunia tak merupa conveyor yang melaju cepat tanpa henti mengagungkan progress sebagai mantra andalan manusia modern. Manusia, kata Adlawi lewat sejumlah sajaknya, harus berhenti sejenak, meloncat dari conveyor kemajuan, menghela nafas panjang, lalu: kupijak bumi dengan hati (sajak Tapak) kendati hidup kadang berkasur bara berselimut api (sajak Deja vu).
Kegelisahan sosial itulah yang ia bawa ke sajak-sajak dengan gaya ungkap yang menjurus dan ringkas. Namun, bagi saya, dalam sajak-sajak yang berfokus ke kegelisahan sosial tersebut, harus diakui ada beberapa sajak yang kurang berhasil. Misalnya, sajak Mikrofon: ...gedung bertingkat itu membangun dirinya sendiri dari/pasir semen batu bata kayu kaca genting yang kau/embat dari proyek negara yang kau kerjakan/mesin atm itu tempatmu memoroti uang proyek/negara yang kau kerjakan.
Terasa sekali, bagi saya, sajak ini kurang bisa melampaui benda-benda (hal fisik) yang dihadirkan menjadi sesuatu yang lebih simbolik, sesuatu yang lebih berkonsep. Ia akhirnya tak lebih sebagai penggenap dari keriuhan bahasa sehari-hari di sekeliling kita. Hal serupa juga terasa pada sajak Limbah dan Sajak Aku dan Kau.
Dalam tema-tema yang menyelami kegelisahan sosial itu, bagi saya, sajak-sajak Adlawi terasa lebih sesak dan membuat kita sulit bernafas, juga merenung. Ia bahkan nyaris menjadi cermin yang tanpa retak dari kenyataan dan keseharian kita, barangkali hampir seperti berita di koran dan televisi. Maka, imajinasi pembaca nyaris tak punya tempat dalam sajak-sajak itu karena semuanya sudah sesak dengan kenyataan-sosial yang dipaparkan apa-adanya.
Kendati demikian, sajak-sajak Adlawi secara umum tetap segar dan kuat. Metafora yang tak klise membuat pembaca benar-benar dimanjakan untuk mencapai ekstase ketika membacanya—sekaligus membikin pembaca bekerja keras untuk meraba dan menelaah sajak-sajaknya.Adlawi tak hanya telah menemukan rumah estetiknya sendiri, namun juga mampu menawarkan banyak kemungkinan baru bagi perkembangan puisi kontemporer. Puisi-puisi Adlawi menjadi kandidat kuat untuk mendapat tempat tersendiri dalam dunia sastra tanah air.
[ini merupakan tinjauan atas buku sajak Jaran Goyang karya Samsudin Adlawi (2009)]
disemai oleh
penunggu fajar
saat
01:18
Minggu, 26 Juli 2009
Mardi
Tiba-tiba saya membayangkan Santiago, nelayan renta di masterpiece Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea, ada di hadapanku saat ini.
Seorang renta nestapa yang 84 hari melaut tanpa beroleh ikan. Lantas, apakah namanya jika nelayan berhari-hari tak mendapatkan buruan? Masihkah ia disebut nelayan?Kini saya seperti melihatnya lekat-lekat. Bukan di perairan lepas Havana, tapi di sebuah terminal. Bukan dengan topi jerami yang tersuruk ke belakang, tapi dengan kopiah lusuh hitam yang kumal.
Namanya Sumardi. Kutemui ia di sudut terminal Maospati, Magetan, dua pekan silam. Ia seorang pedagang asongan: rokok, air mineral, tisu, kembang-gula.
Saat itu saya duduk di pojok terminal. Di kejauhan, di ruang tunggu penumpang, suasana hingar sungguh. Tak jauh dari tempatku ternyata ada sesosok tua itu.
"Rokok, Mas?"
"Nggak. Aqua botol dan tisu saja, Pak. Berapa?"
Saya mengeluarkan beberapa lembar uang sambil berpikir keras bagaimana cara memulai obrolan dengannya.
"Lumayan panas, ya, Pak?" kataku.
"Ya. Wis pirang-pirang dino ora udan (sudah berhari-hari tak turun hujan), Mas. Dari mana sampeyan?" responsnya sambil duduk di sebelahku. Dan kami pun berbincang lumayan lama, hampir sejam. Ia berbincang lepas seperti sedang menguliahi cucunya.
* * *
Membicarakan pria berumur 62 warsa itu seperti menemukan berlarat-larat kearifan. Mardi juga sebuah kaca benggala yang kikir retakan--setidaknya bagiku.
Sudah hampir dua dekade ia bekerja di terminal. Ia orang terminal. Mulai dari tukang sapu, sesekali memijat supir yang penat, hingga berdagang rokok dan kembang gula; semua dilakoninya. Sempat merantau ke Surabaya dan menjadi pesuruh di sebuah pabrik, tapi kemudian pulang lagi ke Magetan karena pabrik tempat bekerjanya limbung.
Dengan penghasilan rerata Rp 8-10 ribu per hari, ia berjuang keras menghidupi keluarganya. Nilai riil penghasilan itu nyaris stabil sejak ia mulai kerja di usianya yang belia. Pendapatan Mardi tak kenal kalkulasi kenaikan menyesuaikan inflasi lazimnya gaji karyawan di sebuah perusahaan. Mardi lahir miskin (harta), hidup miskin, dan kelak mungkin mati miskin.
Dua anaknya tak sempat duduk di bangku SMA, tak sempat menghelat promnight party, tak kenal bimbingan belajar, dan pasti tak tahu apa itu SPMB atau UMPTN.Kini keduanya sudah menikah. Satu yang masih tinggal seatap dengannya, Rahayu, kini 40 tahun, anak sulungnya, yang ia nikahkan di usianya yang ke-19.
Sebenarnya ia punya tiga anak, tapi satu di antaranya meninggal kala berumur tujuh tahun karena, demikian ia berkata, "badan yang teramat panas". Mardi tak bisa membawa sang anak ke rumah sakit atau puskesmas bukan karena tak sayang, tapi karena tak ada uang di tangan. Sampai kini ia tak tahu penyakit apa yang membuat jiwanya getas tak keruan itu.
"Sampeyan tahu rasanya mengantarkan anak menuju kematian? Sampeyan tahu rasanya menggali tanah untuk tubuh anak sendiri?" tanyanya gemetar.
Saya tak sanggup menatap wajahnya.
Mardi memendam luka yang teramat dalam. Bukan luka sebenarnya, tapi rasa bersalah. Mungkin sepanjang hidupnya ia digodam perasaaan bersalah itu: rasa tiada guna menjadi orangtua. Mungkin di setiap helaan nafasnya, yang terbayang ialah sengal sang anak ketika akan wafat tanpa pernah tersentuh jarum infus atau tangan dokter yang mahal.
* * *
Mungkin sulit bagi sebagian kita membayangkan hidup dengan Rp 10 ribu per hari. Bahkan, di kota kecil macam Magetan sekali pun. Tetapi, itulah hidup: ia selalu menyisakan ruang yang menjanjikan ketakterdugaan dahsyat, selarik puisi yang menyajikan tragika paling perih sekaligus keriangan menghadapinya.
Mardi adalah contoh nyata tentang itu. Sepanjang hidupnya, kecemasan menjelma tanah yang selalu terlihat ketika ia menyusuri terminal. Tapi, di sepanjang hidupnya pula, keriangan ialah langit yang melulu tergambar di bola matanya kala ia bersimpuh tengadah-pasrah.
Mardi, seperti halnya Santiago di karya Hemingway, berani menghadapi hidup sekaligus takluk pada hidup dalam waktu yang bersamaan: wujud tanggung jawab tertinggi terhadap kemanusiaan, yaitu pantang menyerah, hidup yang tak sungsang. Bagi saya, pantang menyerah di tengah kepapan yang sangat adalah manifestasi nyata kemanusiaan: bahwa kita benar-benar manusia.
Santiago, nelayan tua itu, begitu heroik berlayar seorang diri di tengah lautan luas. Tulang yang tua, kulit tangan yang tersayat senar pancing, dan sinisme pahit dari lingkungan yang disaputkan kepadanya tak membuat Santiago mundur sedepa pun. Melawan ikan seharian, hingga matahari timbul-tenggelam, adalah sebuah Hidup bagi Santiago.
Santiago tak butuh hidup yang tenang dengan riak yang gemulai, tapi ia perlu bahu yang kuat untuk melawan karang melawan ombak melawan angin yang kabarkan perih. Maka, wahai ikan, kata Santiago, aku mencintaimu tapi aku akan membuatmu lungkrah tak berdaya.
Adakah harapan dalam hidup semacam itu? Mardi adalah pancaran harapan itu sendiri. Di situlah iman (saya sebenarnya lebih suka menyebut iman sebagai "kesetiaan") menemukan manifestasinya paling konkrit.
Ia memuji Tuhan bukan lewat kaligrafi indah yang dipajang di ruang tamu atau baju takwa sutra yang membekap tubuh. Ia mencintai Tuhan bukan lewat tasbih mahal yang melingkar di tangan; juga bukan lewat raung pilu suara di malam-malam Ramadan.
Ia mencintai dan setia kepada Tuhan dengan caranya sendiri: berani menghadapi hidup sekaligus takluk di dalamnya. Waton urip, kata orang Jawa.
Ia luntang pukang terjun ke riuh-dunia: kerja sana sini, utang sana sini. Ia tak lantas berlari ke tiang-tiang masjid yang sunyi atau deretan kursi gereja yang lengang. Tapi ia juga sadar bahwa hidup adalah batas yang tak mungkin bisa disangkal sekaligus dijangkau.Di situlah Hidup dirayakan dengan poster pemberontakan paling menghujam sekaligus kepasrahan paling takzim.
Di manakah negara? Ah, negara sudah tanggal dalam kehidupan orang seperti Mardi.
* * *
Obrolan kami berakhir. Saya harus segera berangkat ke Surabaya dan meninggalkan--tapi tak melupakan--terminal ini dan Mardi.
Bagi Mardi, terminal adalah ruang yang pepak dengan gaung kecemasan sekaligus koar keriangan. Bagi saya, terminal ialah persinggahan untuk sejenak menikmati susu hangat di sela kelana-perjalanan.
Saya menghabiskan waktu di bus dengan membaca majalah Campus Asia edisi Maret 2009. Di sana kutemukan sebuah "totalitas"--dalam arti yang sungguh sumir--di advertorial Starbucks di halaman 36-37. "I found my passion and love for coffee here; that is why decided to develop career here," kata Dwi Pramono, barista yang kemudian menjadi ahli dalam jagat perkopian sebagai District Coffee Master, menceritakan perjodohannya dengan Starbucks.
Bekerja di Starbucks menjadi sangat menarik, demikian Pramono di advertorial itu, bukan hanya karena ia bekerja untuk salah satu raksasa bisnis kopi siap saji, tetapi lebih dari itu: ia merasakan "ekstase" saat menemukan pesona keahlian dan pengetahuan untuk membuat berbagai ramuan kopi bercita rasa "high-class".
Tentu sulit membayangkan Mardi akan bilang seperti ini: "memang pendapatan pedagang asongan hanya Rp 8-10 ribu, tapi pekerjaan ini menyembulkan passion tersendiri tentang bagaimana menyusuri hasta demi hasta terminal, tentang kebanggaan yang tak mungkin terterakan di buku harian".
Pramono punya pilihan, Mardi tidak.
Deru bus melaju di jalanan. Dunia kembali lengang.
disemai oleh
penunggu fajar
saat
00:41
Selasa, 30 Juni 2009
Jotos
Hari itu, Senin, 2 April 2001, publik berduka. Tapi, ingatan manusia ternyata tak cukup kuat: begitu mudah kejayaan dilupakan. Industri membutuhkan orang baru, pahlawan anyar, dan pujaan gres agar uang bisa terus dikumpulkan dan dikeruk.
Memasuki ring tinju adalah menuju gerbang ketidakpastian. Sebuah ketetapan hati untuk ”meninggalkan...tasik yang tenang, tiada beriak” untuk mengutip Sutan Takdir Alisjahbana di sajak Menuju ke Laut yang masyhur itu.
Ketika cibiran publik menderas, ketika itu pula mental harus dinyalakan dengan bara keras kepala yang sangat. Saya teringat kala Holyfield menuliskan larik-larik yang manis di biografinya, Becoming Holyfield: A Fighter’s Journey, sebuah biografi yang benderang tentang tapak karir mantan juara tinju kelas berat itu.
Dunia petinju, dan dunia Holyfield, adalah proses ”menjadi”—I’m still in the process of ”becoming Holyfield”. Sodoran kalimat ini tak cukup sederhana untuk diartikan, apalagi ketika Holyfield memilih kata ”becoming”, sebuah kata yang tak stabil untuk didefinisikan. Sebuah kata yang selalu berproses, tak pernah tuntas; dan dengan membaca biografinya, kita tahu Holyfield sedang tertawa sungguh riang di dalam proses itu.
***
Tak lagi ada yang sempat pongah atau ”bertanya mengapa musim tiba-tiba reda” seperti di sajak Sapardi yang lainnya, Saat Sebelum Berangkat. Dipo, Akbar, Alfardzi, Moses, dan Rachman pulang, dan yang tersisa hanyalah gema dari kejayaannya, sayup suara yang mengelu-elukannya di kotak ring.
disemai oleh
penunggu fajar
saat
11:50
Diary
(Sebab) kertas lebih sabar ketimbang manusia. Anne Frank menulis selarik kalimat itu di buku hariannya. Sebuah pasase yang pada awal kuliah sempat kucetak besar lalu kutempelkan di kamar pondokanku yang rudin.
Saya sering memandangi tulisan itu sesaat setelah menulis di buku harian di malam-malam yang kadang sepi kadang teramat riuh.
Dan Jumat malam itu, 5 Juni 2009, setelah melihat sekilas tayangan tentang Anne Frank di televisi kala berbincang bersama dua kolega baik di sebuah kafe di Surabaya, saya terhenyak. Saya tiba-tiba teringat buku harian Anne, bocah manis itu, yang pasti kini teronggok tak berdaya di rak buku saya di rumah.
Ah, apa kabarmu, bocah manis?
* * *
Ia datang bukan sebagai orator yang menggebu bicara kemanusiaan. Ia bukan panglima militer, ekonom, fisikawan, atau atlet legendaris. Tapi, bertahun-tahun sesudah kematiannya, orang ramai tetap tak pernah lupa: kisahnya terus terekam lewat buku dan film, pasase-pasase di buku hariannya lekat di ingatan.
Tepat 12 Juni, 80 warsa silam, ia keluar dari rahim ibunya. Kita tahu, buku harian Anne menyita perhatian di seluruh penjuru dunia. Bahkan, bermula dari diary yang disapanya sebagai ”kitty” itulah nama Anne ditabalkan Time sebagai salah satu tokoh berpengaruh di abad ke-20, sebuah abad yang gemuruh oleh tragika dan baluran darah segar. Nama Anne masuk dalam kategori heroes dan icons, bersanding dengan banyak nama besar, seperti Bunda Teresa, Muhammad Ali, dan Che Guevara.
Ia tiga belas tahun kala itu, 12 Juni 1942, saat kali pertama menulis buku harian. ”Aku berharap aku bisa mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan kepada siapa pun sebelumnya. Aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku,” tulisnya.
Anne memberi jalan benderang kepada kita untuk memahami betapa asyiknya menulis diary kendati ia berada dalam risau luar biasa akibat pembersihan warga Yahudi ketika Hitler masih berjaya. Ia menjadikan diary sebagai medium untuk memundaki derita dan kecemasan, sekaligus menampakkan keriangan menghadapi hidup.
Anne tak mengawali proses penulisan buku hariannya dengan mudah. Ia jujur mengakui kesulitannya dalam awal mula menulis. Ia tak tahu apa kelak yang ia tulis itu berguna atau tidak.
Tapi, Anne tak perlu menunggu jawaban terlalu lama tentang ”apakah kelak yang ia tulis berguna atau tidak?”, sebab ia sadar bahwa menulis diary adalah sebuah ikhtiar yang kelewat personal namun bermakna sosial ketika yang digoresnya adalah suara batin yang menghayati kemanusiaan.
Maka, dia pun merasakan kenyamanan itu. Tak butuh lama sejak kali pertama menulis diary, Anne sudah merasakan betapa nikmatnya ”proses menulis”—bahkan jauh lebih nikmat ketika tulisan sudah rampung dan dibaca orang ramai.
Ia menambahkan pada 28 September 1942 tentang nikmatnya ”proses menulis” dalam selarik kalimat yang tegas: aku merasa tidak sabar menunggu saat-saat untuk dapat berbagi cerita bersamamu.
Dan memang benar, bahwa menulis diary dengan jujur adalah terapi jiwa menghadapi idealitas dunia yang kian menjadi utopia.
Anne menulis diary sejak usia tiga belas tahun. Tangannya terakhir kali menggores diary pada 1 Agustus 1944, hanya tiga hari sebelum orang-orang yang ada di tempat persembunyian, termasuk dirinya, ditangkap.
Berkat buku hariannya itu, Time menyebut Anne sebagai ”the most memorable figure to emerge from World War II”.
Tentu saja bukan hanya Anne yang menjadikan diary sebagai teman yang menyejukkan sekaligus sarana menyalurkan pemberontakan individual terhadap wajah bopeng dunia. Beberapa nama yang bisa disebut adalah Zlata Filipovich, Nadja Halibegovich, Mochtar Lubis, Ahmad Wahib, atau Soe Hok Gie.
Nadja Halibegovich, bocah lugu yang merana dalam gigir kecemasan luar biasa akibat perang, juga menulis catatan harian yang di kemudian hari dibukukan dalam Catatan Harian Anak Sarajevo.
Di sana ia mencurahkan kecemasannya dalam lebam kehidupan yang dibekap desing peluru dan dengus nafsu peperangan. Sekali lagi ini membuktikan, diary kendati sering disebut kelewat personal, tetap bisa menjadi penjelas wajah retak dunia. Simaklah kala Nadja menulis: ”bom-bom meledak di seluruh penjuru kota. Aku menyembunyikan perasaan-perasaan dari semua orang tetapi aku tenggelam dalam keputusasaan. Kapan perang ini akan berakhir? Berapa lama lagi hidupku akan berisikan ruang kematian?”
Dengan nada masygul, Zlata menulis, ”We’re all waiting for something, hoping for something, but there’s nothing.”
Kita juga teringat pada nama Mochtar Lubis—selain Gie dan Wahib, tentu saja. Mochtar Lubis menulis catatan harian di ruang pengap penjara. Mulai dari menu makanan penjara hingga kritik keras ia goreskan di catatannya. Dua buku akhirnya diterbitkan.
Buku pertama berumbul Catatan Subversif berisi catatan hariannya kala dikurung sekira 10 tahun pada zaman Orde Lama. Buku kedua adalah Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru yang, sesuai judulnya, berisi catatan tokoh Indonesia Raya itu dalam tawanan Orde Baru. Dari kedua buku itu kita tahu sepak-terjang Mochtar Lubis dalam memberikan cermin kemanusiaan bagi kita.
Saya membaca Catatan Subversif ketika masih bergelut di pers mahasiswa. Itu salah satu buku wajib di pers mahasiswa tempat saya belajar menulis, dan terutama belajar bagaimana menjejakkan laku dan pikir untuk berpihak.
Dinihari itu, setelah melihat tayangan tentang Anne Frank di televisi, dalam guncang-deru bus Surabaya-Lumajang, saya baca lagi Catatan Subversif dengan perlahan. Saya menikmati ketegasan kalimatnya, sebuah ikhtiar untuk menunjukkan bahwa tulisan adalah jalan untuk memberi suluh bagi gelap kehidupan.
Saya berhenti di halaman 270. Di sana dilampirkan editorial The Philippines Herald terbitan 20 Desember 1963. Isinya tentang kemerdekaan pers. The Philippines Herald menuntut agar Mochtar Lubis dibebaskan. Dalam editorial berumbul Bebaskan Lubis sebagai Tanda Good Will Indonesia itu ditatah bahwa dalam pers Filipina terdapat tempat bagi Mochtar Lubis. Sebuah apresiasi yang sangat tinggi bagi pendekar jurnalistik Indonesia itu.
* * *
Catatan harian Gie dan Wahib, dua orang yang mati muda itu, juga menjadi inspirasi banyak orang. Gie dengan idealisme dan romantika khas anak muda, dan Wahib dengan gagasan besar soal keislaman dan keindonesiaan. Lain kali saya ingin menulis perjumpaan saya dengan dua anak muda itu.
Malam itu, saya tiba-tiba teringat buku harian yang sudah cukup lama tak saya sentuh. Saya menulis buku harian sejak SMA, jauh sebelum saya membaca Anne, Mochtar Lubis, Nadja, Zlata, Gie, maupun Wahib.
Saya selalu belajar untuk tahu bahwa menulis diary, yang kerap kita anggap sepele, ternyata menjanjikan kenikmatan tersendiri. Menulis diary bukan hanya persoalan menumpahkan pikiran dan perasaan yang teramat pribadi, melainkan juga ikhtiar untuk selalu berusaha jujur pada diri sendiri. Kadang hanya di depan diary-lah kita bersikap jujur.
Lewat buku harian pula, yang kita anggap wilayah pribadi itu, ranah sosial terekam. Sebab, di sana kita juga bisa menulis soal wajah bangsa dan masyarakatnya. Perjumpaan antara pikiran-perasaan dan realita dunia terkadang melahirkan tulisan yang tidak hanya menyentuh, tapi juga bisa menjadi inspirasi bagi orang ramai untuk bersama-sama melaburi dunia dengan belarasa dan empati, bukan dengan benci dan intoleransi.
Tapi, tentu saja, saya kemudian sadar bahwa diary kadang tak cukup mampu untuk dibebani kecemasan dunia.
disemai oleh
penunggu fajar
saat
03:51
Rabu, 27 Mei 2009
Mengapa Harus Khoiyaroh...
Sambil membereskan longhi-nya, Hasari Pal, tokoh utama di City of Joy, tampak gusar. Saya membayangkan tubuhnya yang ringkih dan kerap batuk darah itu gemetar luar biasa. Matanya mungkin memerah: antara lebam oleh gentar dan muak sebab marah. Penggusuran segera datang ke permukiman kumuh mereka di "Negeri Bahagia" Calcutta, India.
"Bajingan-bajingan itu sungguh-sungguh telah datang: sebuah buldoser dan dua van penuh polisi bersenjatakan lathi dan tabung gas airmata."
Hasari, penarik angkong yang bersahaja itu, adalah cermin sempurna sebuah nadir kehidupan. Kita tahu, selain kadang menjual darah untuk makan, ia bahkan menjual kerangka tubuhnya yang jauh dari sehat itu sebelum ia mati demi menikahkan putri sulungnya, Amrita. Ia bersetia dalam agamanya yang menitahkan tugas suci seorang ayah untuk menikahkan putrinya.
[di majalah National Geographic edisi Mei 1997, jika saya tak salah ingat, terdapat sebuah potret besar Calcutta, di mana para penarik angkong harus bergelut dan bertaruh nyawa di jalanan; menyelinap di antara terjangan bus kota dan wajah cadas sebuah kota]
* * *
Kali ini bukan di Calcutta, tapi di Surabaya.Siti Khoiyaroh, 4 tahun, akhirnya wafat. Ia pulang (atau berangkat?) diantarkan kuah mendidih dari gerobak bakso ibunya, sesuatu yang memberinya kadang potongan gambar bongkar-pasang kadang kembang gula, tapi yang pasti tak pernah memberinya Boneka Barbie atau DVD Narnia.
Ini adalah tragika paling perih: gerobak bakso yang memundaki beban hidup keluarga malang itu justru menjadi "sakramen" yang memberi jalan pertemuan antara Khoiyaroh dan Yang-Maha-Segala di sana.
Khoiyaroh meninggal setelah gagal melewati masa kritis kedua akibat 67% tubuhnya dilimbur luka bakar kala aparat Satpol PP dengan kebengisan paling menjijikkan mengorak gerobak bakso orangtuanya. Gerobak terjatuh dan bocah lugu itu pun mandi kuah panas. Pejabat pemerintah kota membawa uang Rp 35 juta sebagai tanda duka--sungguh, betapa murah harga sebuah nyawa di Surabaya!
* * *
Kita terkadang juga menikmati kuah panas bakso. Tapi, di depot atau restoran sambil membaca koran atau mengutak-atik laptop. Tentu saja dengan tambahan saus, kecap, dan es kelapa muda.Tapi, Khoiyaroh tidak. Ia benar-benar menikmati kuah mendidih itu untuk mengantarkannya ke pelukan Tuhan. Rasanya Tuhan terlalu sayang kepadanya, hingga Dia pun tak mengizinkan Khoiyaroh berlama-lama melihat dunia yang kian lebam dan bopeng ini.
Chairil Anwar pernah menulis "Tuhanku/dalam termangu/ku sebut namuMu/biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh//di pintu-mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling" di sajak Doa yang masyhur itu (sebuah sajak yang, bagi saya, lebih terasa seperti lelah memohon; berbeda dengan sajak-sajak Chairil lainnya yang terasa lebih pongah dan nyaris kepala batu). Tapi, Khoiyaroh tak perlu mengetuk pintu itu. Sebab, Tuhan "tak bisa berpaling dari dirinya", lalu Dia ajak ia ke rumah-Nya tanpa harus mengetuk pintu--malah sudah dihamparkan karpet merah di sana.
Di Surabaya, juga di hampir sekujur tubuh dunia, Humanisme mungkin telah kehilangan tempatnya. Ia, yang menjadi bahasan pokok di sepanjang roda perkembangan filsafat, juga agama-agama, kini memuai entah ke mana.
Tangis lewat. Belarasa lindap. Empati sembunyi dengan lebam yang sangat.
Lantas, di manakah agama(wan)?
Tak perlu kita menjawabnya dengan kata yang nanti malah bikin sesak dada. Berjalan-jalanlah, lalu tumbuk matamu pada gubuk rudin yang masih membujur di sekujur kota, tak jauh dari tiang-tiang masjid yang ditegakkan memeluk langit seolah Tuhan ada di langit--bukankah Tuhan ada di mana-mana, juga di peraduan kumuh para penderita lepra, misalnya? Manusia toh lebih suka kaligrafi indah di ruang tamu atau naik haji berkali-kali daripada hadir menjawab kontradiksi umat.
Darah leleh dari luka yang menganga, begitu pula airmata; tapi gereja-gereja tambah megah dengan kursi yang kian lengang. Manusia telah memilih jalannya sendiri: menjadikan Yesus lebih riang mendekap langit daripada memeluk kusta dan derita. Maka, kita pun melihat monumen Yesus Memberkati yang tertinggi kedua di dunia dipancangkan di republik ini: setinggi 50 meter di landasan seluas 20 meter, dengan badan patung setinggi 30 meter. Monumen di Manado itu hanya kalah dari patung Christ The Redeemer di Corcovado, Rio de Janeiro, Brasil yang badannya setinggi 38 meter--yang ditulis Goenawan Mohamad sebagai "rapi dan apik, tapi tanpa pathos".
Khoiyaroh adalah kaca benggala bagi kita semua. Ia memberi kita sebuah cermin besar di tengah zaman yang tergesa dan kota yang durhaka. Ia seorang martir kemanusiaan. Penderitaan, baginya, adalah riwayat, dan dengan demikian mengeram dalam diri serta tak perlu ditangisi.
Viktor Frankl, saya baca dari buku F. Budi Hardiman, mengeluarkan sebuah tesis tentang "makna penderitaan"--sebuah terminologi yang menghenyakkan kita, tentu saja. Penderitaan, demikian Frankl, bermakna imanen, bahkan sebuah prestasi: dari dalam-dirinya kita akan menjumput senarai makna. Ada jarak antara "korban" dan "penderitaan". Di jarak itulah makna, sejauh yang saya pahami, bisa disabet bukan saja oleh sang korban tapi juga bukan-korban, bahkan aktor yang mendesain penderitaan korban.
Tetapi, pertanyaannya, mengapa harus Khoiyaroh? Mengapa harus warga Kali Jagir? Mengapa harus Sugiono, kuli bangunan yang anaknya, Wulan, menderita hidrosefalus?
Ah, selamat jalan, Khoiyaroh...
disemai oleh
penunggu fajar
saat
04:18
Rabu, 20 Mei 2009
Kepada Bung Tomo
”Saya tak bisa terbayang bagaimana rasa sakit (yang diderita) anak saya. Saya hanya terkena di tangan, rasanya pun sudah perih,” tutur Sumariyah, 22 tahun.
Sekujur tubuh putri Sumariyah, Siti Khoiyaroh, 4 tahun, terguyur kuah bakso yang mendidih dari gerobak bakso orangtuanya waktu mereka dikejar-kejar Satpol PP, Senin lalu (11/5/2009). Hampir 67 persen tubuh Siti dinyatakan terkena luka bakar, dan untungnya, sudah mampu melewati masa kritis yang pertama di RSU dr Soetomo, Surabaya. Tim dokter menyatakan, nasib Siti ditentukan dalam masa kritis kedua dua pekan mendatang.
Wartawan Kompas Sindy Fathan Mubina menulis dengan apik kisah menyentuh tentang pilu Sumariyah dan Siti Khoiyaroh itu. Apakah Bung membacanya?
** *
Bung, dinihari ini, saya sengaja datang ke Jembatan Merah. Senyap. Dingin. Saya ingin mengajakmu berbincang, Bung (saya mestinya mengajakmu bertemu di Jalan Bung Tomo itu, yang di sana ada pemakaman umum Ngagel). Sebentar saja, Bung, luangkan waktumu, sekadar berbagi sebuhul risau-gelisahku melihat jiwa dunia dan manusianya yang hari ini kian getas. Maukah kau menuruti permintaan anak muda bodoh ini? Tolonglah, Bung, turunlah dari nirwana sana; dan mari sini kita duduk berdua lesehan di jembatan ini.
Bung, saya kadang merinding membayangkan suara Bung yang menggelegar membakar semangat itu. Kau selalu membukanya dengan suara yang nyaris tak pernah parau: ”Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Kini, negerimu ini tak lagi punya orator, Bung. Rakyat berduyun-duyun datang mendengarkan orasi tokoh parpol hanya karena dibayar dan diberi kaus.
Bung...pasti Bung ingat bahwa darah kawan-kawan seangkatan Bung banyak berceceran di sekujur tubuh kota ini dulu kala. Apa kira-kira yang Bung harapkan waktu itu--hingga darah harus memancur dari tangan, dada, kaki, dan kepala kawan-kawan Bung? Apa yang Bung bayangkan tentang Surabaya masa depan--atau Indonesia masa depan--kala Bung dan kawan-kawan Bung memundaki semesta beban dan keterbatasan kala itu--lalu tegak dan sesekali pongah melawan penjajah?
Kini, Bung...38 warsa setelah kepergianmu ke nirwana, kota yang kau cintai jiwa-raga ini juga berlinang darah dan airmata. Di mana-mana orang-orang miskin disingkirkan. Rumah-rumah (atau lebih tepatnya gubuk) mereka digusur, tempat-tempat usaha mereka dilidas, dan gerobak-gerobak mereka diangkut.
Di mana keberadaan publik dalam kebijakan publik semacam itu, Bung?
Ah, Bung, kau mungkin sudah merasakannya sejak lama kala, seingatku, kau menerakan surat ke istrimu: ”Doakan untuk kakandamu...Agar aku selalu dapat kekuatan...Saya menjadi jengkel karena egoisme yang begitu besar dari beberapa orang yang mengaku pemimpin”.
”Kota yang indah”! Ya, mereka menyebut istilah itu, Bung. Apakah dulu pernah ada istilah itu, Bung? Jika ada, bagaimana "kota yang indah" dulu kau artikan?
Apa sebenarnya "kota yang indah" itu?
Apa ”kota yang indah” itu adalah kota yang dipenuhi taman-taman megah, kota tanpa penjual bakso keliling, kota tanpa gubuk-gubuk reot di bantaran kali? Apa "kota yang indah" itu adalah kota yang dipenuhi pusat perbelanjaan, kota yang menggelar parade budaya gemerlap setiap warsanya?
Relasi antagonis sudah terjadi, Bung: antara kaum menengah-atas dan kaum miskin. Dan, negara adalah alat kelas bagi pemilik sumberdaya ekonomi. Kau tentu tahu ihwal tesis ini, Bung.
Kaum yang pertama pemenuhan kebutuhannya sudah memasuki tahap "rekreasi". Karena itu mereka membutuhkan taman indah nan megah dan mal sebagai bagian gaya hidupnya.
Sedangkan kaum miskin berhadapan dengan kontradiksi nyata yang ada di hadapannya: makan-minum, tempat istirahat, biaya sekolah yang kian mahal, dan antisipasi biaya berobat. Karena itu, mereka tentu mengesampingkan "izin" bangunan, keselamatan (dengan membangun gubug di bantaran sungai atau dekat rel KA), dan hal-hal lain yang secara logis masuk kalkulasi kaum berpunya.
Dalam hubungan yang antagonis semacam itu, berbiaknya sekat tentu tak terelakkan.
Maka, Bung...di kotamu ini sekarang kau akan melihat kaum berpunya membangun imperiumnya sendiri di regency-regency, apartemen, dan komplek perumahan mewah yang di depan gerbangnya dipajang papan bertuliskan "pemulung dilarang masuk". Sementara kaum miskin tetap harus jungkir-balik memenuhi kebutuhan primer mereka.
Ah, Bung, saya tak tahu apa kau bahagia namamu dijadikan umbul sebuah proyek megah: Surabaya Sport Center (SSC), Gelora Bung Tomo. Apa kau bahagia mendengarnya?
Proyek itu, Bung, konon nilainya Rp 440,2 miliar. Jika dulu Herman Willem Daendels memerintahkan pembangunan jalan Anyer-Panarukan dengan beraspalkan darah rakyat yang memancur, tulang-belulang yang terserak; kini pun kurasa sama, Bung. Gelora Bung Tomo itu, yang memakai namamu, Bung, dibangun dengan luka dan airmata rakyatmu sendiri.
Bung...hari ini ada pemimpin kota yang marah-marah dan menuding pemerintah provinsi-lah yang salah karena tak becus mengurus problem urbanisasi hingga kaum miskin menumpuk dan membangun gubuk di bantaran sungai. Ah, Bung, jangan-jangan, nanti gubernur juga menyalahkan pemerintah pusat karena tak jua berhasil mengentaskan kemiskinan yang menjadi pangkal konflik masyarakat perkotaan dewasa ini.
Bung...apa kau mendengar ceritaku ini?
Jika Bung masih hidup, 3 Oktober kelak Bung akan berusia 89 tahun. Dan mungkin Bung akan menangis melihat semua ini.
Karena itu, dalam hati saya berbahagia sekarang Bung sudah tiada. Sebab, cukuplah bagi saya membaca dari buku tentang hidup Bung yang dulu selalu terancam; juga saat Bung ditahan oleh rezim di negeri yang Bung sangat cintai ini. Saya tak mau melihat airmata Bung menetes lagi. Cukup, cukup saya membacanya dari buku. Cukup, Bung...
disemai oleh
penunggu fajar
saat
18:45

