Nuryati berjalan cepat. Langkahnya lebar. Dia menyusuri lorong dan ruang yang hampir sepenuhnya bercat putih. Dia sedang kalut dan sungguh khawatir. Mulutnya terus merapal doa apa saja yang ia hafal.
Pagi itu, dunia terasa runtuh bagi Nuryati. Matahari sudah bersinar terang namun dunia menjadi sangat gelap bagi ibu beranak dua itu.
Telepon rumahnya pagi itu berdering dan memberinya kabar teramat muram. ”Bapak Rudi kecelakaan, Bu. Kondisinya kritis, sekarang beliau di RSUD dr Soetomo,” suara seorang perempuan staf rumah sakit membuat Nuryati yang ada di ujung telepon serasa digodam pedih yang dalam mendengar Rudi, suami tercintanya, dikabarkan dalam kondisi kritis karena kecelakaan.
Segera saja ia berangkat ke rumah sakit tanpa sempat sarapan, apalagi berdandan. Sementara anak-anak sudah berangkat sekolah sejak setengah jam lalu.
Dan akhirnya batas itu memang ada: bahwa manusia selalu menjumpai titimangsa ketika ruh harus berpisah dengan raga, ketika dunia benar-benar bukan sesuatu yang baka. Rudi meninggal tepat ketika Nuryati berada di depan pintu ruang operasi, tempat Rudi sempat mendapat perawatan dokter sebelum akhirnya sampai di garis batas kehidupan.
Sontak Nuryati gemetar. Air mata mengalir deras bak air bah dari kedua bola matanya, membentuk semacam anak-anak sungai di pipinya.
Bukan hanya kesedihan karena kehilangan orang yang sangat dicintai, Nuryati juga dilanda kegelisahan hebat. Atau lebih tepatnya penyesalan. Dia teringat anak-anaknya, dan terutama menyesali mengapa kondisi-kondisi muram seperti ini tak pernah dipikirkannya.
Keluarga Nuryati adalah prototipe keluarga muda yang mulai membangun karir. Rudi adalah seorang wirausahawan tangguh yang cukup sukses di bidang perikanan. Tak hanya di dalam negeri, pasar luar negeri juga disasar Rudi.
Gelimang kesejahteraan mulai hinggap di keluarga muda itu. Mereka sering berlibur sekeluarga hingga ke beberapa negara tetangga. Penyisihan pendapatan untuk tabungan tetap dilakukan, namun tak cukup besar.
Mereka lupa jika hidup harus dihargai dengan berfikir bahwa hidup melulu mempunyai batas dan risiko-risiko. Keluarga muda itu tidak menghayati sebuah laku hidup yang dalam nubuat orang Jawa disebut sebagai wadahing manungsa iku winates banget (bahwa kemampuan manusia itu sungguh terbatas).
Akhirnya, mereka memilih untuk tidak mengikuti program asuransi, juga terhadap kedua anak mereka yang masih kecil. Anak pertama duduk di bangku kelas tiga SD, anak kedua baru masuk taman kanak-kanak.
Mereka enggan berasuransi bukan hanya karena abai pada perencanaan keuangan keluarga yang komprehensif, tapi juga masih dibekap dogma yang keliru ihwal asuransi. Asuransi jiwa, bagi mereka, adalah "berprasangka buruk" terhadap hidup. Berasuransi jiwa, bagi mereka, adalah mematerialisasikan hidup.
Akibatnya baru dirasakan Nuryati saat ini. Ia tak hanya kehilangan sang suami, tapi juga kelimpungan memikirkan masa depan kedua anaknya. Maklum, Nuryati hanya ibu rumah tangga. Tabungan yang tersedia pun tak cukup banyak untuk bisa menjamin kehidupan mereka selanjutnya, terutama untuk memberikan pendidikan yang berkualitas bagi sang anak.
Ilustrasi dari kisah keluarga Nuryati itu memberikan cermin bagi kita bahwa hidup dan kehidupan ini mesti disyukuri dengan melakukan senarai langkah agar setiap depa langkah kita memberi guna di masa kini dan masa depan. Tentu, jika keluarga itu berpikir untuk berasuransi, ceritanya pasti akan lain.
Apa yang terjadi di keluarga Nuryati adalah cerminan banyak orang di Indonesia. Saat ini, kesadaran berasuransi jiwa masyarakat Indonesia bisa dibilang masih sangat minim.
Minimnya kesadaran berasuransi masyarakat bisa dilihat dari jumlah pemegang polis (tertanggung) yang masih sangat sedikit. Pemegang polis individu mencapai 7,43 juta, dan jumlah pemegang polis grup atau kumpulan tumbuh menjadi 24,8 juta. Sehingga, jumlah pemegang polis mencapai 32 juta, mendaki 20-26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Kompas, 17/6/2009).
Pada triwulan pertama 2008, jumlah tertanggung bahkan sempat turun drasti sebesar 25,71 persen, dari 34,54 juta pada triwulan pertama 2007 menjadi 25,66 juta, di mana terdapat 7,1 juta tertanggung individu (Jawa Pos, 26/6/2008). Kontribusi industri asuransi terhadap PDB juga masih minim. Pada 2006 baru sebesar 1,33 persen, kemudian meningkat pada 2007 menjadi 1,8 persen (Jawa Pos, 20/1/0/2008).
Respek kepada Hidup
Berpartisipasi dalam asuransi jiwa sesungguhnya bukanlah mematerialisasikan hidup atau menilai hidup kita dari sisi ekonomis. Dengan berasuransi, justru kita memancangkan sikap empati dan respek kepada hidup dan kehidupan.
Bahwa kita harus selalu siap menerima segala kemungkinan terburuk dalam hidup, itu memang benar. Namun, bukan berarti kita tidak mengantisipasi sesuatu yang tidak kita harapkan. Dogma lama bahwa berasurasi itu tidak etis karena berprasangka kepada hidup haruslah diubah, bahkan perlu diempaskan dan dibuang jauh-jauh.
Inilah mengapa kita memerlukan sebuah perencanaan keuangan (financial planning) yang komprehensif. Tujuannya, tentu saja untuk mengelola keuangan untuk mencapai tujuan-tujuan di dalam hidup. Di sinilah pentingnya kesadaran untuk berasuransi. Dengan berasuransi pula kita bisa mewujudkan kondisi keuangan yang mandiri sekaligus memberikan proteksi terhadap kehidupan kita yang sangat berharga ini.
Saya mulai menyadari hal ini, kendati dulu saya sempat bersikeras tidak tertarik kepada asuransi. Saya bersyukur bisa mengenal dan memahami pentingnya berasuransi dalam usia yang masih relatif muda.
Saya mulai bisa membayangkan bagaimana kelak kehidupan saya ketika sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Tentu saya ingin memberikan yang terbaik bagi kehidupan saya pribadi dan orang-orang terdekat. Saya memahami asuransi sebagai ikhtiar untuk memberi respek kepada hidup dan kehidupan. Dan, bagi saya, hal tersebut juga merupakan wujud rasa syukur atas semua nikmat yang diberikan Sang Pemilik Hidup.
Mengapa asuransi menjadi begitu penting? Ilustrasi kisah keluarga Nuryati yang saya ceritakan di awal tulisan ini paling mudah memberi penjelasan mengapa asuransi teramat penting bagi hidup kita.
Saya, dan tentu juga kita semua, tidak akan pernah tahu kapan risiko-risiko dalam hidup ini menimpa kita. Karena keterbatasan manusia (wadahing manungsa iku winates banget) itulah, kita harus melakukan antisipasi-antisipasi. Misalnya, bila kita yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga tiba-tiba terkena musibah. Setelah musibah itu, kita menjadi manusia yang tidak produktif (karena tulang kaki patah atau bahkan meninggal, misalnya) dan otomatis tak bisa memberikan pemasukan bagi keluarga.
Jika selama kita mampu produktif tidak pernah berpikir untuk berasuransi, tentu ilustrasi kisah keluarga Nuryati di atas bisa menimpa kita. Pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana kelanjutan hidup orang-orang tercinta dan bagaimana pendidikan buah hati tentu akan berkelabatan dan menggelisahkan pikiran kita.
Namun, lain ceritanya bila kita berasuransi. Asuransi itulah yang akan memberikan layanan terbaik bagi kehidupan keluarga. Ingat, sekali lagi, ini bukan persoalan kita berprasangka buruk terhadap hidup, tetapi lebih merupakan upaya mengantisipasi risiko buruk yang akan menimpa kita.
Risiko hidup (sakit, kecelakaan, atau meninggal) bisa terjadi kapan pun dan tak ada seorang pun yang tahu. Jika kita menjadi pemegang polis, risiko itulah yang akan digantikan oleh premi yang telah kita bayar selama kita mengikuti program asuransi.
Bagi saya, untuk berasuransi tidak perlu menunggu sampai kita berpenghasilan sampai puluhan juta rupiah, misalnya. Berasuransi tidak mengenal pemegang polis bergaji minim dan bergaji tinggi. Semua produk bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing para tertanggung.
Untuk berpartisipasi dalam program asuransi tidak perlu menunggu sampai kita menjadi orang kaya. Berasuransi bisa dimulai dari kemampuan kita, menyesuaikan dengan kemampuan diri sendiri. Setiap perusahaan asuransi pasti mempunyai paket-paket produk yang disesuaikan dengan kualifikasi masing-masing tertanggung yang akan disasarnya.
Di AJB Bumiputera 1912, misalnya, terdapat beragam produk yang bisa kita pilih untuk disesuaikan dengan keperluan kita di masa kini dan masa mendatang. Sekadar contoh, ada produk AJB Bumiputera 1912 yang bernama Mitra Oetama, sebuah program asuransi dengan pembayaran premi tunggal yang fleksibel. Produk ini menggabungkan tiga manfaat, mulai dari santunan meninggal dunia sebesar uang pertanggungan. Jika meninggal dalam kecelakaan, maka santunannya adalah dua kali uang pertanggungan. Selain itu, juga ada fasilitas pemberian biaya rawat inap di rumah sakit.
Di AJB Bumiputera 1912 juga ada produk Mitra Beasiswa Berencana, sebuah program asuransi yang menjamin biaya pendidikan untuk anak. Jadi kita tidak perlu khawatir tentang pendidikan anak mulaui dari Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi. Selain itu, tetap ada jaminan perolehan santunan meninggal dunia sebesar uang pertanggungan.
Inilah arti penting berasuransi. Berasuransi adalah upaya untuk memberi respek kepada hidup sekaligus mensyukuri betapa besar karunia Tuhan Yang Mahakuasa.
Berasuransi jiwa justru menunjukkan ekspresi kasih sayang kita kepada diri sendiri dan orang-orang tercinta. Saya sendiri optimistis, kelak industri asuransi jiwa akan terus bertumbuh.
Pelan tapi pasti kesadaran masyarakat untuk berasuransi harus terus digugah. Regulator, para pemain di industri asuransi, dan semua elemen masyarakat harus bersama-sama menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengakses produk-produk asuransi.
Akhir kata, sekadar mengingatkan lagi, berasuransi adalah wujud syukur kita atas hidup yang begitu berharga ini, dan karena itu kita harus mampu menjaganya. Asuransi jiwa adalah sebentuk ikhtiar yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita mampu menghayati nilai-nilai kemanusiaan, mampu menghikmati sisi manusiawi dalam kehidupan, yaitu keterbatasan manusia dalam mengelola risiko-risiko dalam kehidupan.
Jangan menunggu kenaikan gaji atau menunggu menjadi orang kaya baru kemudian menjadi peserta asuransi. Jangan ada kata terlambat dalam hidup kita...
baca selengkapnya..