Selasa, 2009 Juni 30

Jotos

Jika ada dokter yang tahu betul tentang batas antara hidup dan mati di industri olahraga tinju tanah air, pasti Tommy Halauwet orangnya. Dia menangani dan mengoperasi banyak petinju yang limbung setelah bertanding, beberapa di antaranya harus menemui ajal: Dipo Saloko, Akbar Maulana, Alfaridzi, Antonius Moses.


Di sebuah awal pekan ketika April baru beranjak delapan warsa silam, di hari ketika orang ramai mulai bekerja, dan di malam yang basah karena hujan masih setia menyapa Jakarta, Halauwet menarik nafas panjang. Saya membayangkan, dengan air muka yang tenang dan nada bicara yang pelan, dia mengumumkan kematian Alfaridzi, petinju muda berbakat Indonesia yang mengalami pendarahan setelah dipukul KO Kong Thawat Oka, petinju asal Thailand, dalam sebuah pertandingan nongelar di Gedung Tegar Beriman, Cibinong.
Malam itu, Halauwet berkisah tentang sebuah tragika. Di bawah lapisan otak Alfaridzi, yang kala itu begitu tenar, terdapat luka. Darahnya harus dikeluarkan, demikian sang dokter, agar kondisi Alfaridzi tak semakin lungkrah.Kita tahu Halauwet telah berjuang habis-habisan. Tapi, kita juga tahu, dunia membutuhkan sebuah batas. Alfaridzi akhirnya meninggal dunia. Dia tak sempat menggamit puncak karir yang lebih riuh dan menggebu.


Hari itu, Senin, 2 April 2001, publik berduka. Tapi, ingatan manusia ternyata tak cukup kuat: begitu mudah kejayaan dilupakan. Industri membutuhkan orang baru, pahlawan anyar, dan pujaan gres agar uang bisa terus dikumpulkan dan dikeruk.

Ya, orang ramai mungkin sudah lupa dengan Alfaridzi, Dipo, Moses, dan Akbar. Bahkan, mungkin dengan seorang petinju hebat macam Rachman Kili-Kili yang ditemukan tewas bunuh diri karena beban ekonomi yang tak tertanggungkan. Mungkin kita juga sudah lupa nasib juara dunia pertama dari Indonesia, Ellyas Pical, yang sempat menjadi penjaga diskotik dan kemudian tertangkap polisi karena membawa ekstasi. Pical merebut juara dunia kelas bantam versi IBF dalam sebuah partai yang sungguh pikuk di Jakarta, 4 Mei 1985.


Dada bidang, kepalan tangan yang keras, dan gerak kaki lincah ternyata tak cukup untuk sekadar bertahan hidup. Pical atau Rachman harus berjuang hidup mati-matian untuk makan dan sebagainya, sama seperti ketika mereka mempertaruhkan nyawa di kotak ring yang tak cukup lebar itu.


Mungkin hanya Pino Bahari yang bakat dan jeli menjadi promotor bersama keluarganya yang bisa merasakan madunya industri tinju. Atau Samsul Anwar Harahap yang pandai bercakap hingga rajin menjadi komentator di televisi, meski secara prestasi jelas kalah dari Pical. Dipo, Akbar, dan Alfaridzi juga tak seberuntung M. Rachman atau Chris John yang sudah cukup cakap mengelola keuangan ketika kejayaan sedang dipundaki.


***


Para petinju, mereka serupa penyerang yang siap kapan saja melancarkan pukulan. Hidupnya keras dan melulu dipenuhi cemas. Tapi, juga ada harapan. Di satu sisi, tapak kakinya melewati gigir suasana yang mencekam. Tapi, di sisi lain, ada cahaya yang menyembul di ujung gua yang gelap. Separuh menantang separuh lagi pasrah.


Saya merasakan betul bagaimana optimisme dibuncahkan dan dinding tebal coba dirobohkan ketika beberapa kali melihat langsung pertandingan tinju di studio Trans TV dan Indosiar.


Seorang petinju wajib punya buncahan semangat seraya mengipas rasa takut sekuat-kuatnya, bahkan ketika musuhnya jauh lebih kuat atau publik mencibir kekuatannya untuk menaklukkan sang lawan. Butuh sebuah pembakar jiwa yang, meminjam Fyodor Dostoyevski dalam Notes from Underground, berkoar bahwa ”aku tidak akan menyerah kepadanya hanya karena ia dinding batu dan aku tidak punya kekuatan”.


Memasuki ring tinju adalah menuju gerbang ketidakpastian. Sebuah ketetapan hati untuk ”meninggalkan...tasik yang tenang, tiada beriak” untuk mengutip Sutan Takdir Alisjahbana di sajak Menuju ke Laut yang masyhur itu.


Ketika cibiran publik menderas, ketika itu pula mental harus dinyalakan dengan bara keras kepala yang sangat. Saya teringat kala Holyfield menuliskan larik-larik yang manis di biografinya, Becoming Holyfield: A Fighter’s Journey, sebuah biografi yang benderang tentang tapak karir mantan juara tinju kelas berat itu.


Holyfield jengah ketika orang ramai bilang bahwa Mike Tyson akan datang membunuhnya, tetapi dengan pongah ia berucap, ”Saya menghajarnya dua kali!”Pun ketika ia harus bersua dengan Riddick Bowe yang tinggi-besar itu. Dalam kesempatan melawan Bowe untuk kedua kalinya, publik menyangsikan seorang Holyfield. Sampai-sampai, demikian ia berkisah, Bowe diyakini akan mampu mengirim Holyfield ke rumah sakit. Tapi, akhirnya publik tahu, Holyfield mampu mengandaskan Bowe.


Tinju adalah sebuah kehidupan yang seolah tak bisa dijalani dengan tertib, juga taklid. Alfaridzi, Dipo, Akbar, Rachman, atau Pical tahu betul tentang hal itu. Tapi, mungkin tidak dengan Holyfield—setidaknya itu yang kurasakan. Dari biografinya, kita akan tahu bahwa meski sama-sama petinju, Alfa-Dipo-Akbar-Rachman berbeda dengan Holyfield yang telinganya pernah dimamah Mike Tyson itu.


Holyfield menuturkan kisah hidupnya dengan larik-larik yang riang dan menyembulkan harapan. Bahkan, meski ketika ia sedang bertutur soal kemarahan, kesedihan, atau jengkel yang tak tertahankan. Saya tak tahu apa sudah ada biografi eks petinju tanah air. Kisah hidup para petinju kita mungkin hanya ada di lembaran koran atau rekaman televisi.Ada sebuah pasase yang asyik kita cermati di buku ini, ketika Holyfield mantap bertutur,. ”I have had a great life following my faith and my instincts.”


Kita akan tahu bahwa, bagi Holyfield, dunia pascagantung sarung tinju bukanlah dunia yang yatim oleh senyum, sepi oleh tawa—sebuah dunia yang berbeda secara diametral dengan dunia yang dijalani Rachman atau Pical, misalnya.


Dunia petinju, dan dunia Holyfield, adalah proses ”menjadi”—I’m still in the process of ”becoming Holyfield”. Sodoran kalimat ini tak cukup sederhana untuk diartikan, apalagi ketika Holyfield memilih kata ”becoming”, sebuah kata yang tak stabil untuk didefinisikan. Sebuah kata yang selalu berproses, tak pernah tuntas; dan dengan membaca biografinya, kita tahu Holyfield sedang tertawa sungguh riang di dalam proses itu.


***

Tapi, tinju juga menyodorkan selarik batas agar manusia tak lantas jadi pongah. Selalu ada kejayaan yang harus diakhiri, untuk kemudian dicari pemangku tahta kejayaan yang anyar. Kadang dengan kematian yang mengalirkan airmata seperti terjadi pada Dipo, Akbar, Alfaridzi, dan Rachman. Seorang petinju, sekuat dan seganas apa pun di atas ring dan di sela tempik sorak penonton dan petaruh, pasti akan menjalani sebuah sajak sunyi dari Sapardi Djoko Damono, Hari pun Tiba. Ya, ”hari pun tiba” di hidup Dipo, Akbar, Alfaridzi, dan Rachman, ketika ”kita (harus) berkemas sementara jarum melewati angka-angka”. Para petinju itu tahu bahwa di titimangsa tertentu jotosan tangan tak lagi berarti apa-apa kala ”kaupun menyapa: ke mana kita” dan lantas ”tak sanggup menyelesaikan kata”. Mereka gagu, kepalan tangan lunglai, uppercut-hook-jab tak berdaya, serupa ”...musim mulai menanggalkan daun-daunnya”.


Tak lagi ada yang sempat pongah atau ”bertanya mengapa musim tiba-tiba reda” seperti di sajak Sapardi yang lainnya, Saat Sebelum Berangkat. Dipo, Akbar, Alfardzi, Moses, dan Rachman pulang, dan yang tersisa hanyalah gema dari kejayaannya, sayup suara yang mengelu-elukannya di kotak ring.

* * *

Saya kerap membayangkan bisa bersandar di dada mereka untuk merasakan degup jantungnya—bayangkan ketika Moon Bloodgood yang menjadi Blair Williams di Terminator: Salvation bersandar di dada Marcus Wright yang diperankan Sam Worthington. Saya yakin ada sesuatu yang bisa kita rasakan bila kita bersandar di dada seorang petinju, dan tentu berbeda dengan degup jantung orang ramai.Kita teringat Abu Jandal. Mungkin ia juga berada dalam situasi macam itu. Dalam sebagian besar hidupnya, Abu Jandal merasakan betul sebuah dunia dengan cemas yang meruap dan di satu sisi dibarengi optimisme yang membuncah.


Ada sebuah pasase yang sungguh kusuka dari buku The Osama bin Laden I Know: An Oral History of al Qaeda’s Leader yang ditulis Peter Bergen. Abu Jandal, bodyguard Osama, selalu terngiang sebuah asa tentang ”kematian yang agung, yang sempurna”—di sini saya sebenarnya menemukan paradoks, atau tepatnya pertanyaan, adakah mati yang tak agung, yang kikir kesempurnaannya?


”Kesyahidan,” demikian kata dia menirukan apa yang biasa dituturkan Osama, ”jauh lebih baik daripada menjadi tawanan”.

Maka, Abu Jandal yang selalu berada di samping Osama pun dibekali sebuah pistol dengan dua biji peluru di dalamnya. Tapi, ia tak hendak menjaga Osama dari kematian. Justru bekal pistol itu dibarengi sebuah titah yang menggiriskan dari Osama: bunuh aku dengan peluru itu jika musuh sudah mengepung (dan sulit bagi kita untuk bisa lolos).

Bagi Osama, mati jelas lebih mulia daripada harus takluk di tangan musuh—di sini kita menemukan paradoks karena, ketika Osama memilih mati, itu berarti ia sudah takluk kepada musuh. Tapi, bagi Osama, ia akan menemui sebuah ”kematian yang agung”: ”martyrdom rather than captivity”.

Osama sungguh yakin dengan ”kematian yang agung” itu. Saya yakin, Dipo, Akbar, Alfaridzi, dan Rachman juga paham betul arti sebuah ”kematian yang agung”, meski kadang dititi dengan jalan yang bagi sebagian khalayak sangat tragis.

baca selengkapnya..

Respek kepada Hidup dan Kesadaran Berasuransi

Nuryati berjalan cepat. Langkahnya lebar. Dia menyusuri lorong dan ruang yang hampir sepenuhnya bercat putih. Dia sedang kalut dan sungguh khawatir. Mulutnya terus merapal doa apa saja yang ia hafal.

Pagi itu, dunia terasa runtuh bagi Nuryati. Matahari sudah bersinar terang namun dunia menjadi sangat gelap bagi ibu beranak dua itu.

Telepon rumahnya pagi itu berdering dan memberinya kabar teramat muram. ”Bapak Rudi kecelakaan, Bu. Kondisinya kritis, sekarang beliau di RSUD dr Soetomo,” suara seorang perempuan staf rumah sakit membuat Nuryati yang ada di ujung telepon serasa digodam pedih yang dalam mendengar Rudi, suami tercintanya, dikabarkan dalam kondisi kritis karena kecelakaan.

Segera saja ia berangkat ke rumah sakit tanpa sempat sarapan, apalagi berdandan. Sementara anak-anak sudah berangkat sekolah sejak setengah jam lalu.

Dan akhirnya batas itu memang ada: bahwa manusia selalu menjumpai titimangsa ketika ruh harus berpisah dengan raga, ketika dunia benar-benar bukan sesuatu yang baka. Rudi meninggal tepat ketika Nuryati berada di depan pintu ruang operasi, tempat Rudi sempat mendapat perawatan dokter sebelum akhirnya sampai di garis batas kehidupan.

Sontak Nuryati gemetar. Air mata mengalir deras bak air bah dari kedua bola matanya, membentuk semacam anak-anak sungai di pipinya.

Bukan hanya kesedihan karena kehilangan orang yang sangat dicintai, Nuryati juga dilanda kegelisahan hebat. Atau lebih tepatnya penyesalan. Dia teringat anak-anaknya, dan terutama menyesali mengapa kondisi-kondisi muram seperti ini tak pernah dipikirkannya.

Keluarga Nuryati adalah prototipe keluarga muda yang mulai membangun karir. Rudi adalah seorang wirausahawan tangguh yang cukup sukses di bidang perikanan. Tak hanya di dalam negeri, pasar luar negeri juga disasar Rudi.

Gelimang kesejahteraan mulai hinggap di keluarga muda itu. Mereka sering berlibur sekeluarga hingga ke beberapa negara tetangga. Penyisihan pendapatan untuk tabungan tetap dilakukan, namun tak cukup besar.

Mereka lupa jika hidup harus dihargai dengan berfikir bahwa hidup melulu mempunyai batas dan risiko-risiko. Keluarga muda itu tidak menghayati sebuah laku hidup yang dalam nubuat orang Jawa disebut sebagai wadahing manungsa iku winates banget (bahwa kemampuan manusia itu sungguh terbatas).

Akhirnya, mereka memilih untuk tidak mengikuti program asuransi, juga terhadap kedua anak mereka yang masih kecil. Anak pertama duduk di bangku kelas tiga SD, anak kedua baru masuk taman kanak-kanak.

Mereka enggan berasuransi bukan hanya karena abai pada perencanaan keuangan keluarga yang komprehensif, tapi juga masih dibekap dogma yang keliru ihwal asuransi. Asuransi jiwa, bagi mereka, adalah "berprasangka buruk" terhadap hidup. Berasuransi jiwa, bagi mereka, adalah mematerialisasikan hidup.

Akibatnya baru dirasakan Nuryati saat ini. Ia tak hanya kehilangan sang suami, tapi juga kelimpungan memikirkan masa depan kedua anaknya. Maklum, Nuryati hanya ibu rumah tangga. Tabungan yang tersedia pun tak cukup banyak untuk bisa menjamin kehidupan mereka selanjutnya, terutama untuk memberikan pendidikan yang berkualitas bagi sang anak.

Ilustrasi dari kisah keluarga Nuryati itu memberikan cermin bagi kita bahwa hidup dan kehidupan ini mesti disyukuri dengan melakukan senarai langkah agar setiap depa langkah kita memberi guna di masa kini dan masa depan. Tentu, jika keluarga itu berpikir untuk berasuransi, ceritanya pasti akan lain.

Apa yang terjadi di keluarga Nuryati adalah cerminan banyak orang di Indonesia. Saat ini, kesadaran berasuransi jiwa masyarakat Indonesia bisa dibilang masih sangat minim.

Minimnya kesadaran berasuransi masyarakat bisa dilihat dari jumlah pemegang polis (tertanggung) yang masih sangat sedikit. Pemegang polis individu mencapai 7,43 juta, dan jumlah pemegang polis grup atau kumpulan tumbuh menjadi 24,8 juta. Sehingga, jumlah pemegang polis mencapai 32 juta, mendaki 20-26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Kompas, 17/6/2009).

Pada triwulan pertama 2008, jumlah tertanggung bahkan sempat turun drasti sebesar 25,71 persen, dari 34,54 juta pada triwulan pertama 2007 menjadi 25,66 juta, di mana terdapat 7,1 juta tertanggung individu (Jawa Pos, 26/6/2008). Kontribusi industri asuransi terhadap PDB juga masih minim. Pada 2006 baru sebesar 1,33 persen, kemudian meningkat pada 2007 menjadi 1,8 persen (Jawa Pos, 20/1/0/2008).

Respek kepada Hidup

Berpartisipasi dalam asuransi jiwa sesungguhnya bukanlah mematerialisasikan hidup atau menilai hidup kita dari sisi ekonomis. Dengan berasuransi, justru kita memancangkan sikap empati dan respek kepada hidup dan kehidupan.

Bahwa kita harus selalu siap menerima segala kemungkinan terburuk dalam hidup, itu memang benar. Namun, bukan berarti kita tidak mengantisipasi sesuatu yang tidak kita harapkan. Dogma lama bahwa berasurasi itu tidak etis karena berprasangka kepada hidup haruslah diubah, bahkan perlu diempaskan dan dibuang jauh-jauh.

Inilah mengapa kita memerlukan sebuah perencanaan keuangan (financial planning) yang komprehensif. Tujuannya, tentu saja untuk mengelola keuangan untuk mencapai tujuan-tujuan di dalam hidup. Di sinilah pentingnya kesadaran untuk berasuransi. Dengan berasuransi pula kita bisa mewujudkan kondisi keuangan yang mandiri sekaligus memberikan proteksi terhadap kehidupan kita yang sangat berharga ini.

Saya mulai menyadari hal ini, kendati dulu saya sempat bersikeras tidak tertarik kepada asuransi. Saya bersyukur bisa mengenal dan memahami pentingnya berasuransi dalam usia yang masih relatif muda.

Saya mulai bisa membayangkan bagaimana kelak kehidupan saya ketika sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Tentu saya ingin memberikan yang terbaik bagi kehidupan saya pribadi dan orang-orang terdekat. Saya memahami asuransi sebagai ikhtiar untuk memberi respek kepada hidup dan kehidupan. Dan, bagi saya, hal tersebut juga merupakan wujud rasa syukur atas semua nikmat yang diberikan Sang Pemilik Hidup.

Mengapa asuransi menjadi begitu penting? Ilustrasi kisah keluarga Nuryati yang saya ceritakan di awal tulisan ini paling mudah memberi penjelasan mengapa asuransi teramat penting bagi hidup kita.

Saya, dan tentu juga kita semua, tidak akan pernah tahu kapan risiko-risiko dalam hidup ini menimpa kita. Karena keterbatasan manusia (wadahing manungsa iku winates banget) itulah, kita harus melakukan antisipasi-antisipasi. Misalnya, bila kita yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga tiba-tiba terkena musibah. Setelah musibah itu, kita menjadi manusia yang tidak produktif (karena tulang kaki patah atau bahkan meninggal, misalnya) dan otomatis tak bisa memberikan pemasukan bagi keluarga.

Jika selama kita mampu produktif tidak pernah berpikir untuk berasuransi, tentu ilustrasi kisah keluarga Nuryati di atas bisa menimpa kita. Pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana kelanjutan hidup orang-orang tercinta dan bagaimana pendidikan buah hati tentu akan berkelabatan dan menggelisahkan pikiran kita.

Namun, lain ceritanya bila kita berasuransi. Asuransi itulah yang akan memberikan layanan terbaik bagi kehidupan keluarga. Ingat, sekali lagi, ini bukan persoalan kita berprasangka buruk terhadap hidup, tetapi lebih merupakan upaya mengantisipasi risiko buruk yang akan menimpa kita.

Risiko hidup (sakit, kecelakaan, atau meninggal) bisa terjadi kapan pun dan tak ada seorang pun yang tahu. Jika kita menjadi pemegang polis, risiko itulah yang akan digantikan oleh premi yang telah kita bayar selama kita mengikuti program asuransi.

Bagi saya, untuk berasuransi tidak perlu menunggu sampai kita berpenghasilan sampai puluhan juta rupiah, misalnya. Berasuransi tidak mengenal pemegang polis bergaji minim dan bergaji tinggi. Semua produk bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing para tertanggung.

Untuk berpartisipasi dalam program asuransi tidak perlu menunggu sampai kita menjadi orang kaya. Berasuransi bisa dimulai dari kemampuan kita, menyesuaikan dengan kemampuan diri sendiri. Setiap perusahaan asuransi pasti mempunyai paket-paket produk yang disesuaikan dengan kualifikasi masing-masing tertanggung yang akan disasarnya.

Di AJB Bumiputera 1912, misalnya, terdapat beragam produk yang bisa kita pilih untuk disesuaikan dengan keperluan kita di masa kini dan masa mendatang. Sekadar contoh, ada produk AJB Bumiputera 1912 yang bernama Mitra Oetama, sebuah program asuransi dengan pembayaran premi tunggal yang fleksibel. Produk ini menggabungkan tiga manfaat, mulai dari santunan meninggal dunia sebesar uang pertanggungan. Jika meninggal dalam kecelakaan, maka santunannya adalah dua kali uang pertanggungan. Selain itu, juga ada fasilitas pemberian biaya rawat inap di rumah sakit.

Di AJB Bumiputera 1912 juga ada produk Mitra Beasiswa Berencana, sebuah program asuransi yang menjamin biaya pendidikan untuk anak. Jadi kita tidak perlu khawatir tentang pendidikan anak mulaui dari Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi. Selain itu, tetap ada jaminan perolehan santunan meninggal dunia sebesar uang pertanggungan.

Inilah arti penting berasuransi. Berasuransi adalah upaya untuk memberi respek kepada hidup sekaligus mensyukuri betapa besar karunia Tuhan Yang Mahakuasa.

Berasuransi jiwa justru menunjukkan ekspresi kasih sayang kita kepada diri sendiri dan orang-orang tercinta. Saya sendiri optimistis, kelak industri asuransi jiwa akan terus bertumbuh.

Pelan tapi pasti kesadaran masyarakat untuk berasuransi harus terus digugah. Regulator, para pemain di industri asuransi, dan semua elemen masyarakat harus bersama-sama menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengakses produk-produk asuransi.

Akhir kata, sekadar mengingatkan lagi, berasuransi adalah wujud syukur kita atas hidup yang begitu berharga ini, dan karena itu kita harus mampu menjaganya. Asuransi jiwa adalah sebentuk ikhtiar yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita mampu menghayati nilai-nilai kemanusiaan, mampu menghikmati sisi manusiawi dalam kehidupan, yaitu keterbatasan manusia dalam mengelola risiko-risiko dalam kehidupan.

Jangan menunggu kenaikan gaji atau menunggu menjadi orang kaya baru kemudian menjadi peserta asuransi. Jangan ada kata terlambat dalam hidup kita...

baca selengkapnya..

Diary

(Sebab) kertas lebih sabar ketimbang manusia. Anne Frank menulis selarik kalimat itu di buku hariannya. Sebuah pasase yang pada awal kuliah sempat kucetak besar lalu kutempelkan di kamar pondokanku yang rudin.

Saya sering memandangi tulisan itu sesaat setelah menulis di buku harian di malam-malam yang kadang sepi kadang teramat riuh.

Dan Jumat malam itu, 5 Juni 2009, setelah melihat sekilas tayangan tentang Anne Frank di televisi kala berbincang bersama dua kolega baik di sebuah kafe di Surabaya, saya terhenyak. Saya tiba-tiba teringat buku harian Anne, bocah manis itu, yang pasti kini teronggok tak berdaya di rak buku saya di rumah.

Ah, apa kabarmu, bocah manis?

* * *
Ia datang bukan sebagai orator yang menggebu bicara kemanusiaan. Ia bukan panglima militer, ekonom, fisikawan, atau atlet legendaris. Tapi, bertahun-tahun sesudah kematiannya, orang ramai tetap tak pernah lupa: kisahnya terus terekam lewat buku dan film, pasase-pasase di buku hariannya lekat di ingatan.


Tepat 12 Juni, 80 warsa silam, ia keluar dari rahim ibunya. Kita tahu, buku harian Anne menyita perhatian di seluruh penjuru dunia. Bahkan, bermula dari diary yang disapanya sebagai ”kitty” itulah nama Anne ditabalkan Time sebagai salah satu tokoh berpengaruh di abad ke-20, sebuah abad yang gemuruh oleh tragika dan baluran darah segar. Nama Anne masuk dalam kategori heroes dan icons, bersanding dengan banyak nama besar, seperti Bunda Teresa, Muhammad Ali, dan Che Guevara.

Ia tiga belas tahun kala itu, 12 Juni 1942, saat kali pertama menulis buku harian. ”Aku berharap aku bisa mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan kepada siapa pun sebelumnya. Aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku,” tulisnya.


Anne memberi jalan benderang kepada kita untuk memahami betapa asyiknya menulis diary kendati ia berada dalam risau luar biasa akibat pembersihan warga Yahudi ketika Hitler masih berjaya. Ia menjadikan diary sebagai medium untuk memundaki derita dan kecemasan, sekaligus menampakkan keriangan menghadapi hidup.

Anne tak mengawali proses penulisan buku hariannya dengan mudah. Ia jujur mengakui kesulitannya dalam awal mula menulis. Ia tak tahu apa kelak yang ia tulis itu berguna atau tidak.

Tapi, Anne tak perlu menunggu jawaban terlalu lama tentang ”apakah kelak yang ia tulis berguna atau tidak?”, sebab ia sadar bahwa menulis diary adalah sebuah ikhtiar yang kelewat personal namun bermakna sosial ketika yang digoresnya adalah suara batin yang menghayati kemanusiaan.

Maka, dia pun merasakan kenyamanan itu. Tak butuh lama sejak kali pertama menulis diary, Anne sudah merasakan betapa nikmatnya ”proses menulis”—bahkan jauh lebih nikmat ketika tulisan sudah rampung dan dibaca orang ramai.

Ia menambahkan pada 28 September 1942 tentang nikmatnya ”proses menulis” dalam selarik kalimat yang tegas: aku merasa tidak sabar menunggu saat-saat untuk dapat berbagi cerita bersamamu.


Dan memang benar, bahwa menulis diary dengan jujur adalah terapi jiwa menghadapi idealitas dunia yang kian menjadi utopia.

Anne menulis diary sejak usia tiga belas tahun. Tangannya terakhir kali menggores diary pada 1 Agustus 1944, hanya tiga hari sebelum orang-orang yang ada di tempat persembunyian, termasuk dirinya, ditangkap.

Berkat buku hariannya itu, Time menyebut Anne sebagai ”the most memorable figure to emerge from World War II”.

Tentu saja bukan hanya Anne yang menjadikan diary sebagai teman yang menyejukkan sekaligus sarana menyalurkan pemberontakan individual terhadap wajah bopeng dunia. Beberapa nama yang bisa disebut adalah Zlata Filipovich, Nadja Halibegovich, Mochtar Lubis, Ahmad Wahib, atau Soe Hok Gie.

Nadja Halibegovich, bocah lugu yang merana dalam gigir kecemasan luar biasa akibat perang, juga menulis catatan harian yang di kemudian hari dibukukan dalam Catatan Harian Anak Sarajevo.

Di sana ia mencurahkan kecemasannya dalam lebam kehidupan yang dibekap desing peluru dan dengus nafsu peperangan. Sekali lagi ini membuktikan, diary kendati sering disebut kelewat personal, tetap bisa menjadi penjelas wajah retak dunia. Simaklah kala Nadja menulis: ”bom-bom meledak di seluruh penjuru kota. Aku menyembunyikan perasaan-perasaan dari semua orang tetapi aku tenggelam dalam keputusasaan. Kapan perang ini akan berakhir? Berapa lama lagi hidupku akan berisikan ruang kematian?”

Dengan nada masygul, Zlata menulis, ”We’re all waiting for something, hoping for something, but there’s nothing.”

Kita juga teringat pada nama Mochtar Lubis—selain Gie dan Wahib, tentu saja. Mochtar Lubis menulis catatan harian di ruang pengap penjara. Mulai dari menu makanan penjara hingga kritik keras ia goreskan di catatannya. Dua buku akhirnya diterbitkan.

Buku pertama berumbul Catatan Subversif berisi catatan hariannya kala dikurung sekira 10 tahun pada zaman Orde Lama. Buku kedua adalah Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru yang, sesuai judulnya, berisi catatan tokoh Indonesia Raya itu dalam tawanan Orde Baru. Dari kedua buku itu kita tahu sepak-terjang Mochtar Lubis dalam memberikan cermin kemanusiaan bagi kita.

Saya membaca Catatan Subversif ketika masih bergelut di pers mahasiswa. Itu salah satu buku wajib di pers mahasiswa tempat saya belajar menulis, dan terutama belajar bagaimana menjejakkan laku dan pikir untuk berpihak.


Dinihari itu, setelah melihat tayangan tentang Anne Frank di televisi, dalam guncang-deru bus Surabaya-Lumajang, saya baca lagi Catatan Subversif dengan perlahan. Saya menikmati ketegasan kalimatnya, sebuah ikhtiar untuk menunjukkan bahwa tulisan adalah jalan untuk memberi suluh bagi gelap kehidupan.

Saya berhenti di halaman 270. Di sana dilampirkan editorial The Philippines Herald terbitan 20 Desember 1963. Isinya tentang kemerdekaan pers. The Philippines Herald menuntut agar Mochtar Lubis dibebaskan. Dalam editorial berumbul Bebaskan Lubis sebagai Tanda Good Will Indonesia itu ditatah bahwa dalam pers Filipina terdapat tempat bagi Mochtar Lubis. Sebuah apresiasi yang sangat tinggi bagi pendekar jurnalistik Indonesia itu.

* * *

Catatan harian Gie dan Wahib, dua orang yang mati muda itu, juga menjadi inspirasi banyak orang. Gie dengan idealisme dan romantika khas anak muda, dan Wahib dengan gagasan besar soal keislaman dan keindonesiaan. Lain kali saya ingin menulis perjumpaan saya dengan dua anak muda itu.

Malam itu, saya tiba-tiba teringat buku harian yang sudah cukup lama tak saya sentuh. Saya menulis buku harian sejak SMA, jauh sebelum saya membaca Anne, Mochtar Lubis, Nadja, Zlata, Gie, maupun Wahib.

Saya selalu belajar untuk tahu bahwa menulis diary, yang kerap kita anggap sepele, ternyata menjanjikan kenikmatan tersendiri. Menulis diary bukan hanya persoalan menumpahkan pikiran dan perasaan yang teramat pribadi, melainkan juga ikhtiar untuk selalu berusaha jujur pada diri sendiri. Kadang hanya di depan diary-lah kita bersikap jujur.

Lewat buku harian pula, yang kita anggap wilayah pribadi itu, ranah sosial terekam. Sebab, di sana kita juga bisa menulis soal wajah bangsa dan masyarakatnya. Perjumpaan antara pikiran-perasaan dan realita dunia terkadang melahirkan tulisan yang tidak hanya menyentuh, tapi juga bisa menjadi inspirasi bagi orang ramai untuk bersama-sama melaburi dunia dengan belarasa dan empati, bukan dengan benci dan intoleransi.

Tapi, tentu saja, saya kemudian sadar bahwa diary kadang tak cukup mampu untuk dibebani kecemasan dunia.

baca selengkapnya..

Rabu, 2009 Mei 27

Mengapa Harus Khoiyaroh...

Sambil membereskan longhi-nya, Hasari Pal, tokoh utama di City of Joy, tampak gusar. Saya membayangkan tubuhnya yang ringkih dan kerap batuk darah itu gemetar luar biasa. Matanya mungkin memerah: antara lebam oleh gentar dan muak sebab marah. Penggusuran segera datang ke permukiman kumuh mereka di "Negeri Bahagia" Calcutta, India.

"Bajingan-bajingan itu sungguh-sungguh telah datang: sebuah buldoser dan dua van penuh polisi bersenjatakan lathi dan tabung gas airmata."

Hasari, penarik angkong yang bersahaja itu, adalah cermin sempurna sebuah nadir kehidupan. Kita tahu, selain kadang menjual darah untuk makan, ia bahkan menjual kerangka tubuhnya yang jauh dari sehat itu sebelum ia mati demi menikahkan putri sulungnya, Amrita. Ia bersetia dalam agamanya yang menitahkan tugas suci seorang ayah untuk menikahkan putrinya.

[di majalah National Geographic edisi Mei 1997, jika saya tak salah ingat, terdapat sebuah potret besar Calcutta, di mana para penarik angkong harus bergelut dan bertaruh nyawa di jalanan; menyelinap di antara terjangan bus kota dan wajah cadas sebuah kota]

* * *

Kali ini bukan di Calcutta, tapi di Surabaya.Siti Khoiyaroh, 4 tahun, akhirnya wafat. Ia pulang (atau berangkat?) diantarkan kuah mendidih dari gerobak bakso ibunya, sesuatu yang memberinya kadang potongan gambar bongkar-pasang kadang kembang gula, tapi yang pasti tak pernah memberinya Boneka Barbie atau DVD Narnia.

Ini adalah tragika paling perih: gerobak bakso yang memundaki beban hidup keluarga malang itu justru menjadi "sakramen" yang memberi jalan pertemuan antara Khoiyaroh dan Yang-Maha-Segala di sana.

Khoiyaroh meninggal setelah gagal melewati masa kritis kedua akibat 67% tubuhnya dilimbur luka bakar kala aparat Satpol PP dengan kebengisan paling menjijikkan mengorak gerobak bakso orangtuanya. Gerobak terjatuh dan bocah lugu itu pun mandi kuah panas. Pejabat pemerintah kota membawa uang Rp 35 juta sebagai tanda duka--sungguh, betapa murah harga sebuah nyawa di Surabaya!

* * *

Kita terkadang juga menikmati kuah panas bakso. Tapi, di depot atau restoran sambil membaca koran atau mengutak-atik laptop. Tentu saja dengan tambahan saus, kecap, dan es kelapa muda.Tapi, Khoiyaroh tidak. Ia benar-benar menikmati kuah mendidih itu untuk mengantarkannya ke pelukan Tuhan. Rasanya Tuhan terlalu sayang kepadanya, hingga Dia pun tak mengizinkan Khoiyaroh berlama-lama melihat dunia yang kian lebam dan bopeng ini.

Chairil Anwar pernah menulis "Tuhanku/dalam termangu/ku sebut namuMu/biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh//di pintu-mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling" di sajak Doa yang masyhur itu (sebuah sajak yang, bagi saya, lebih terasa seperti lelah memohon; berbeda dengan sajak-sajak Chairil lainnya yang terasa lebih pongah dan nyaris kepala batu). Tapi, Khoiyaroh tak perlu mengetuk pintu itu. Sebab, Tuhan "tak bisa berpaling dari dirinya", lalu Dia ajak ia ke rumah-Nya tanpa harus mengetuk pintu--malah sudah dihamparkan karpet merah di sana.

Di Surabaya, juga di hampir sekujur tubuh dunia, Humanisme mungkin telah kehilangan tempatnya. Ia, yang menjadi bahasan pokok di sepanjang roda perkembangan filsafat, juga agama-agama, kini memuai entah ke mana.

Tangis lewat. Belarasa lindap. Empati sembunyi dengan lebam yang sangat.

Lantas, di manakah agama(wan)?

Tak perlu kita menjawabnya dengan kata yang nanti malah bikin sesak dada. Berjalan-jalanlah, lalu tumbuk matamu pada gubuk rudin yang masih membujur di sekujur kota, tak jauh dari tiang-tiang masjid yang ditegakkan memeluk langit seolah Tuhan ada di langit--bukankah Tuhan ada di mana-mana, juga di peraduan kumuh para penderita lepra, misalnya? Manusia toh lebih suka kaligrafi indah di ruang tamu atau naik haji berkali-kali daripada hadir menjawab kontradiksi umat.

Darah leleh dari luka yang menganga, begitu pula airmata; tapi gereja-gereja tambah megah dengan kursi yang kian lengang. Manusia telah memilih jalannya sendiri: menjadikan Yesus lebih riang mendekap langit daripada memeluk kusta dan derita. Maka, kita pun melihat monumen Yesus Memberkati yang tertinggi kedua di dunia dipancangkan di republik ini: setinggi 50 meter di landasan seluas 20 meter, dengan badan patung setinggi 30 meter. Monumen di Manado itu hanya kalah dari patung Christ The Redeemer di Corcovado, Rio de Janeiro, Brasil yang badannya setinggi 38 meter--yang ditulis Goenawan Mohamad sebagai "rapi dan apik, tapi tanpa pathos".

Khoiyaroh adalah kaca benggala bagi kita semua. Ia memberi kita sebuah cermin besar di tengah zaman yang tergesa dan kota yang durhaka. Ia seorang martir kemanusiaan. Penderitaan, baginya, adalah riwayat, dan dengan demikian mengeram dalam diri serta tak perlu ditangisi.

Viktor Frankl, saya baca dari buku F. Budi Hardiman, mengeluarkan sebuah tesis tentang "makna penderitaan"--sebuah terminologi yang menghenyakkan kita, tentu saja. Penderitaan, demikian Frankl, bermakna imanen, bahkan sebuah prestasi: dari dalam-dirinya kita akan menjumput senarai makna. Ada jarak antara "korban" dan "penderitaan". Di jarak itulah makna, sejauh yang saya pahami, bisa disabet bukan saja oleh sang korban tapi juga bukan-korban, bahkan aktor yang mendesain penderitaan korban.

Tetapi, pertanyaannya, mengapa harus Khoiyaroh? Mengapa harus warga Kali Jagir? Mengapa harus Sugiono, kuli bangunan yang anaknya, Wulan, menderita hidrosefalus?

Ah, selamat jalan, Khoiyaroh...

baca selengkapnya..

Rabu, 2009 Mei 20

Kepada Bung Tomo

”Saya tak bisa terbayang bagaimana rasa sakit (yang diderita) anak saya. Saya hanya terkena di tangan, rasanya pun sudah perih,” tutur Sumariyah, 22 tahun.

Sekujur tubuh putri Sumariyah, Siti Khoiyaroh, 4 tahun, terguyur kuah bakso yang mendidih dari gerobak bakso orangtuanya waktu mereka dikejar-kejar Satpol PP, Senin lalu (11/5/2009). Hampir 67 persen tubuh Siti dinyatakan terkena luka bakar, dan untungnya, sudah mampu melewati masa kritis yang pertama di RSU dr Soetomo, Surabaya. Tim dokter menyatakan, nasib Siti ditentukan dalam masa kritis kedua dua pekan mendatang.

Wartawan Kompas Sindy Fathan Mubina menulis dengan apik kisah menyentuh tentang pilu Sumariyah dan Siti Khoiyaroh itu. Apakah Bung membacanya?

** *

Bung, dinihari ini, saya sengaja datang ke Jembatan Merah. Senyap. Dingin. Saya ingin mengajakmu berbincang, Bung (saya mestinya mengajakmu bertemu di Jalan Bung Tomo itu, yang di sana ada pemakaman umum Ngagel). Sebentar saja, Bung, luangkan waktumu, sekadar berbagi sebuhul risau-gelisahku melihat jiwa dunia dan manusianya yang hari ini kian getas. Maukah kau menuruti permintaan anak muda bodoh ini? Tolonglah, Bung, turunlah dari nirwana sana; dan mari sini kita duduk berdua lesehan di jembatan ini.

Bung, saya kadang merinding membayangkan suara Bung yang menggelegar membakar semangat itu. Kau selalu membukanya dengan suara yang nyaris tak pernah parau: ”Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Kini, negerimu ini tak lagi punya orator, Bung. Rakyat berduyun-duyun datang mendengarkan orasi tokoh parpol hanya karena dibayar dan diberi kaus.

Bung...pasti Bung ingat bahwa darah kawan-kawan seangkatan Bung banyak berceceran di sekujur tubuh kota ini dulu kala. Apa kira-kira yang Bung harapkan waktu itu--hingga darah harus memancur dari tangan, dada, kaki, dan kepala kawan-kawan Bung? Apa yang Bung bayangkan tentang Surabaya masa depan--atau Indonesia masa depan--kala Bung dan kawan-kawan Bung memundaki semesta beban dan keterbatasan kala itu--lalu tegak dan sesekali pongah melawan penjajah?

Kini, Bung...38 warsa setelah kepergianmu ke nirwana, kota yang kau cintai jiwa-raga ini juga berlinang darah dan airmata. Di mana-mana orang-orang miskin disingkirkan. Rumah-rumah (atau lebih tepatnya gubuk) mereka digusur, tempat-tempat usaha mereka dilidas, dan gerobak-gerobak mereka diangkut.

Di mana keberadaan publik dalam kebijakan publik semacam itu, Bung?

Ah, Bung, kau mungkin sudah merasakannya sejak lama kala, seingatku, kau menerakan surat ke istrimu: ”Doakan untuk kakandamu...Agar aku selalu dapat kekuatan...Saya menjadi jengkel karena egoisme yang begitu besar dari beberapa orang yang mengaku pemimpin”.

”Kota yang indah”! Ya, mereka menyebut istilah itu, Bung. Apakah dulu pernah ada istilah itu, Bung? Jika ada, bagaimana "kota yang indah" dulu kau artikan?

Apa sebenarnya "kota yang indah" itu?

Apa ”kota yang indah” itu adalah kota yang dipenuhi taman-taman megah, kota tanpa penjual bakso keliling, kota tanpa gubuk-gubuk reot di bantaran kali? Apa "kota yang indah" itu adalah kota yang dipenuhi pusat perbelanjaan, kota yang menggelar parade budaya gemerlap setiap warsanya?

Relasi antagonis sudah terjadi, Bung: antara kaum menengah-atas dan kaum miskin. Dan, negara adalah alat kelas bagi pemilik sumberdaya ekonomi. Kau tentu tahu ihwal tesis ini, Bung.

Kaum yang pertama pemenuhan kebutuhannya sudah memasuki tahap "rekreasi". Karena itu mereka membutuhkan taman indah nan megah dan mal sebagai bagian gaya hidupnya.

Sedangkan kaum miskin berhadapan dengan kontradiksi nyata yang ada di hadapannya: makan-minum, tempat istirahat, biaya sekolah yang kian mahal, dan antisipasi biaya berobat. Karena itu, mereka tentu mengesampingkan "izin" bangunan, keselamatan (dengan membangun gubug di bantaran sungai atau dekat rel KA), dan hal-hal lain yang secara logis masuk kalkulasi kaum berpunya.

Dalam hubungan yang antagonis semacam itu, berbiaknya sekat tentu tak terelakkan.

Maka, Bung...di kotamu ini sekarang kau akan melihat kaum berpunya membangun imperiumnya sendiri di regency-regency, apartemen, dan komplek perumahan mewah yang di depan gerbangnya dipajang papan bertuliskan "pemulung dilarang masuk". Sementara kaum miskin tetap harus jungkir-balik memenuhi kebutuhan primer mereka.

Ah, Bung, saya tak tahu apa kau bahagia namamu dijadikan umbul sebuah proyek megah: Surabaya Sport Center (SSC), Gelora Bung Tomo. Apa kau bahagia mendengarnya?

Proyek itu, Bung, konon nilainya Rp 440,2 miliar. Jika dulu Herman Willem Daendels memerintahkan pembangunan jalan Anyer-Panarukan dengan beraspalkan darah rakyat yang memancur, tulang-belulang yang terserak; kini pun kurasa sama, Bung. Gelora Bung Tomo itu, yang memakai namamu, Bung, dibangun dengan luka dan airmata rakyatmu sendiri.

Bung...hari ini ada pemimpin kota yang marah-marah dan menuding pemerintah provinsi-lah yang salah karena tak becus mengurus problem urbanisasi hingga kaum miskin menumpuk dan membangun gubuk di bantaran sungai. Ah, Bung, jangan-jangan, nanti gubernur juga menyalahkan pemerintah pusat karena tak jua berhasil mengentaskan kemiskinan yang menjadi pangkal konflik masyarakat perkotaan dewasa ini.

Bung...apa kau mendengar ceritaku ini?

Jika Bung masih hidup, 3 Oktober kelak Bung akan berusia 89 tahun. Dan mungkin Bung akan menangis melihat semua ini.

Karena itu, dalam hati saya berbahagia sekarang Bung sudah tiada. Sebab, cukuplah bagi saya membaca dari buku tentang hidup Bung yang dulu selalu terancam; juga saat Bung ditahan oleh rezim di negeri yang Bung sangat cintai ini. Saya tak mau melihat airmata Bung menetes lagi. Cukup, cukup saya membacanya dari buku. Cukup, Bung...

baca selengkapnya..

Senin, 2009 Mei 11

Vriska: Sebuah Obituari

--sebab kematian akan mengantarkanmu ke pintu kehidupan.

Lasantha Wickrematunga, editor The Sunday Leader yang rajin mengritik kebijakan penguasa Srilanka, menulis sebuah sinyal. ”When finally I am killed, it will be the government that kills me,” tulisnya. Berbagai kantor berita menyebutnya sebagai "kata-kata terakhir". Wickrematunga ditemukan tewas dengan luka tembak jarak dekat.

Wickrematunga seperti sedang menulis obituari untuk dirinya sendiri, sebab dia pun tegar menulis, "I have reason to believe the attacks were inspired by the government." Menyedihkan.

Apakah kau, Vriska, menyampaikan sinyal sebelum kepergianmu? Saya tak tahu.

Dan memang, malam itu ternyata menjadi waktu yang sungguh sulit dilupakan. Di malam yang sudah hampir lewat dan pagi yang belum menjelang, nafasmu mungkin mulai terputus-putus. Entah dunia apa yang sedang kau hadapi.

* * *
Vriska Handayanto. Kami biasa memanggilnya Badak. Saya mengenalnya. Sangat dekat.

Ia bocah Rengel, Tuban. Begitu lepas seragam putih-biru, ia langsung melanjutkan SMA di Bojonegoro. Di SMA itulah saya mengenalnya. Di Rengel, rumahnya hanya sekedipan mata dari sumber mataair Ngerong--tempat di mana ikan dan manusia ialah sahabat.

Dulu, saat masih SMA, saya dan teman-teman terbiasa menjadikan pondokannya sebagai tempat berkumpul: main kartu, curhat, mengerjakan PR, sampai menulis surat cinta.

Hampir setiap selepas jam sekolah, terutama saat kelas tiga, saya beristirahat di pondokannya sambil menunggu bimbingan belajar dimulai sore harinya. Di waktu-waktu itulah, Vriska menjadi sesuatu yang sungguh karib bagiku.

Saya mengenal Vriska sebagai pribadi yang sangat ceria. Saat semua berdurja sebab pertengkaran atau patah hati atau nilai matematika yang jeblok, Vriska selalu menjadi penghibur yang baik. Ia seorang yang setia-kawan.

Kami kerap bermain bola bersama. Ia striker yang lumayan haus gol. Kami latihan teater bersama. Ia eksponen kelompok teater Lorong Putih di SMA-ku.

Cukup sering pula Vriska tidur di kamarku yang pepak poster AC Milan, terutama di akhir pekan, sebelum pada Minggu pagi saya mengantarkannya pulang ke Tuban. Dan di rumahnya, yang kunanti adalah suguhan segar ikan bakar plus sambal pedas--ia selalu menyuguhkannya saat saya atau teman-teman bertandang ke rumahnya.

Kami kemudian berpisah. Ia menempuh studi geografi di Universitas Negeri Surabaya, dan saya kuliah di ujung timur nusa Jawa.

Sewaktu memutuskan lebih serius belajar menulis untuk sebuah koran di Surabaya, pondokan Vriska-lah yang kerap kukunjungi saat belum mendapat pondokan di kota buaya itu. Di pondokannya di dekat Unesa--di kamar yang rudin dan banyak tikus, saya sering bermalam.

Saya memendam kesan tersendiri terhadap ia: sebuah ketulusan persahabatan.

Hingga Sabtu pagi kemarin, pukul 05.00 WIB, Dessy Muldiana, kawanku yang juga sahabat Vriska, berkirim SMS kepadaku mengabarkan kepergiannya.

Entah kebetulan atau tidak, Dessy berkirim SMS tepat ketika saya menyuntuki kembali sajak-sajak Chairil Anwar soal kematian:

Bukan kematian benar menusuk kalbu
keridlaanmu menerima segala tiba
tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta

(Nisan)

* * *
Tetapi, apa sebenarnya kematian itu, Vriska? Jika kita berwaktu seperca saja, ingin sebenarnya saya membacakan sajak Chairil ini untukmu:

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu:
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

(Yang Terampas dan Yang Putus)

Bukan, bukan saya ingin menceramahimu ihwal kematian, Vriska. Saya ingin membacakannya terlebih untuk diriku sendiri, untuk menguatkanku bahwa kematian--sebuah ruang-masa yang asing--ialah sesuatu yang akrab, sesuatu yang begitu setia kepada kita.

Chairil berkisah soal kematian dengan urat takut yang tandas. Tak sedikit pun wajahnya tertekuk, dan sambil membusungkan dadanya yang tak cukup kekar itu, Chairil berteriak pongah, "Kalau sampai waktuku...tak perlu sedu-sedan itu."

Tetapi, sebelum "kumau tak seorang pun 'kan merayu" itu lahir, Chairil sebenarnya juga merasakan kematian sebagai suara lamat yang membiakkan sebuhul sikap rendah hati: pasrah-ikhlas, bahkan mungkin takut--suatu sikap yang sungguh manusiawi. Di sajaknya yang lain, yang sedang kubaca saat SMS berkirim kabar kepergianmu masuk ke ponselku, Chairil seperti sedang membentangkan tangan menyambut, lalu memeluk, kematian. Ia menggelar karpet merah untuk kematian.

Segera setelah SMS menyesakkan itu datang, saya membayangkan kau, Vriska, berucap lirih layaknya Chairil di tengah nafasmu yang mulai tersengal: "bukan kematian benar menusuk kalbu, keridlaanmu menerima segala tiba".

Kematian menjadi teramat liris dalam perspektif itu. Sebuah batas. Dan kau sudah berada di batas itu, Vriska. Serupa ketika Pramoedya dengan syahdu luar-biasa menulis di roman Bukan Pasar Malam: "rupa-rupanya manusia tak selamanya bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya".

Pramoedya, seorang yang seolah kebal popor senjata itu, yang tak pernah mundur seinci pun dari teror kekuasaan--yang membuat kita menganggapnya peduli setan dengan mati, ternyata menulis dengan suara hening semacam itu--bahkan nyaris tak terdengar.

Dan di dunia ini, demikian Pramoedya, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. "Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana," kata Pram di roman Bukan Pasar Malam, karya Pram yang paling kugandrungi.

Sebab itu, Vriska, kau pasti paham bahwa kematian sejatinya mengeram dalam diri. Sebuah "Riwayat" untuk meminjam Goenawan Mohamad kala ia menerakan "ketika ia mati musim belum lagi mati/ketika ia ditanamkan, bunga tumbuh di pusat makam/dan ketika ia dilupakan matahari, berkata pelan: sayang, memang sayang".

Vriska, seandainya--ah, betapa kata ini terasa menyesakkan dada--kita punya waktu untuk berbincang sebelum kau pergi, betapa ingin saya mendengarkan kau berkisah soal tautan antara Rindu dan Mati. Dua hal ini, bagi saya, yang bakal memapah kita ke garis kemanusiaan.

Vriska--sekali lagi, saya tak bermaksud menggurui, kematian bukanlah sepah dari siklus hidup. Sebab kematian justru akan mengantarkanmu ke pintu kehidupan.

Tetapi, sungguh saya kehilanganmu--meski saya sepenuhnya sadar bahwa jauh sebelum kau lahir dari garba mulia ibumu, saya pasti akan kehilanganmu sebab kematian adalah riwayat manusia.

Saya menyesal. Saya kehilangan. Sungguh. Seperti kata penyair tua itu, "Sayang, memang sayang."

baca selengkapnya..

Kamis, 2009 April 09

Sof

"Pada akhirnya, media massa adalah wajah yang ambigu, untuk tidak mengatakan hipokrit: ia kadang berbicara tentang tidak adilnya hukum di negeri ini justru ketika di dalam-dirinya berserakan buih ketidakadilan yang kronis."

***

Hari masih pagi. Tujuh buah gelas berukuran sedang. Semangkuk besar jus jambu merah yang sangat kental. Delapanbelas iris semangka. Tujuh buah piring berikut sendok dan garpu.

Aroma kari ayam meruap di samping beberapa bungkus lontong. Ruangan 4x4 meter di sebuah rumah di kawasan Kebayoran Lama, Jaksel. Televisi di ruangan itu menyiarkan gempita perayaan Idul Fitri.

Dia masih sibuk menelepon; entah saudara, teman, atau orangtuanya. Berkali-kali dia tertawa lepas setelah bercanda dengan seseorang di ujung telepon. Dia, Sofyan Hendra, adalah pemilik rumah sekaligus si empunya hajat makan-makan di pagi itu.

Aku ada di rumahnya kala itu. Dan aku hanya diam saja sedari tadi. Di depanku ada Dian Wahyudi, alumnus Unair yang kini menjadi pewarta untuk sebuah koran nasional (Dian sering mengajakku keluar malam-malam untuk sekadar menikmati mie goreng atau roti bakar sambil berkisah tentang Rara Mendut). Ada Miftakhul Fahamsyah, mantan pemain sepakbola yang konon sungguh terkenal di UNY, yang kini setahuku menjadi penulis laporan olahraga yang sangat hebat (aku sering diajaknya menonton pertandingan Liga Super di Senayan; aku sangat senang melihatnya bercanda dengan Bambang Pamungkas di lorong menuju ruang ganti pemain). 

Sayup-sayup suara takbir masih terdengar. Kami baru saja menunaikan salat id di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jaksel. Khatibnya Jimly Assidiqie, mantan ketua MK. Di awal ritus tersebut diumumkan oleh panitia melalui pengeras suara, bahwa Soetrisno Bachir, pemimpin Partai Amanat Nasional (PAN), telah menyumbang sekian ratus juta rupiah untuk masjid itu. 

Selesai salat, kami menuju ke rumahnya. 

"Ayo, untuk sekadar makan pagi," ajaknya riang.

***
Sofyan Hendra. Saya menyapanya Sof, dengan embel-embel kata "mas" di depannya. Beberapa kawan lain kerap menyebutnya Sofie. Tapi, biarkan di catatan ini saya menyebutnya Sof.

Dia seorang penulis laporan yang baik hati, kini bekerja untuk Jawa Pos, koran nasional yang menjadi induk lebih dari seratus koran di berbagai pelosok tanah air. Seorang wartawan ekonomi-makro dari sebuah media online pernah bilang kepadaku tentang hebatnya Sof dalam menganalisis suatu masalah sebelum diturunkan menjadi berita.

Saat kali pertama singgah di Jakarta untuk keperluan "pelatihan" menulis, awal Maret 2008, saya tak banyak bicara dengannya. Beberapa bulan saya dan dia menjalani aktivitas bersama, tapi tak pernah ada obrolan panjang. Ya, kami berbincang hanya untuk urusan penulisan.

Hingga, entah mengapa, kemudian kami menjadi lebih akrab sejak 16 September 2008. Keakraban yang dimulai dari momen lucu (biarlah hanya kami berdua yang mengetahui momen lucu itu) saat kami menghadiri sebuah seminar finansial di Hotel Mulia, Senayan, hanya beberapa depa dari kompleks Gelora Bung Karno.

Kami menjadi kian intens berbincang. Kadang ditemani gulai kambing di Kebayoran Lama, tapi lebih kerap dalam SMS-SMS yang panjang. Ia cakap membincangkan bagaimana Kemanusiaan--hingga ke bentuknya paling riil: hubungan dua manusia--ditatah. Ia fasih memaparkan Marxisme, Kapitalisme, Sosialisme, hingga Khilafah Islamiyah, secantik saat ia menjelaskan soal emisi sukuk, pajak yang dikemplang pengusaha,stimulus fiskal, atau kenapa Bank Century akhirnya limbung.

Kali lain ia ingin membincangkan strukturalisme de Saussure. Sayang, saya sudah tak berkesempatan lagi menyerap ilmunya soal strukturalisme itu karena "pelatihan" menulis yang saya ikuti di Jakarta rampung; dan saya harus pulang kampung, merawat beberapa bunga yang kubeli sejak SMA dan kutaruh di taman di depan rumahku (taman yang hampir hilang karena ibuku sudah capek merawatnya dan tanpa meminta pertimbanganku mengganti semua rerumputan dengan paving-paving warna merah muda).

Di luar tulisannya, saya mengenal Sof sebagai pribadi yang melulu punya sudut pandang berbeda dalam memandang hidup dan hal-hal nyata di depan kita. Ia menasehatiku banyak hal, dan terutama ketika aku mempunyai masalah dengan teman perempuanku kala itu. Seorang wartawati yang ngepos di ekonomi-makro pernah mengatakan kepadaku betapa hebatnya Sofie dalam mengartikan makna "pemahaman" dalam hubungan dua manusia berlainan jenis daripada sekadar "kepemilikan".

***
Sof adalah prototipe penulis yang sangat percaya pada kerja-kerja detil. Setidaknya, itu kurasakan dari tulisan-tulisannya, sejak dulu semasa ia masih menjadi aktivis di kampus Unair hingga kini ia menjadi salah seorang penulis laporan ekonomi terbaik yang dimiliki Jawa Pos.

Dia membahas sebuah tema besar dari reniknya yang terkecil. Jurnalisme, setahuku, memang berangkat dari aku-personal atau sang penulis untuk kemudian berupaya memeluk dunia. 

Tulisannya tidak ambisius. Tak ada nada menggurui. Namun, bukannya tanpa tendensi. Ia menyelinapkan pesan di tulisannya tanpa koar-koar. Tulisan-tulisannya terhindari dari gaya poster, meski jika kita menguliti detil per kata di tulisannya niscaya kita akan menemukan sebuah pesan yang bernas, kritik yang keras. 

Tapi, Sof selalu akomodatif. Ia, sebagai salah seorang mentorku, misalnya, membebaskan saya memakai terminologi "pesta lebaran" untuk menulis laporan setelah mewawancarai beberapa orang di rumah dinas Sri Mulyani dan Paskah Suzetta saat Lebaran 2008 lalu. Ia sendiri memilih diksi "halal-bi halal". 

"Inti pesannya bukan di kata-kata 'ujarnya seusai pesta lebaran di kediaman Menkeu'," katanya menasehatiku.

Sof mungkin benar. Tapi, bisa jadi ia lupa soal ihwal bahasa. 

Bahasa tentu bukan sesuatu yang bebas nilai. Ada intervensi di sana. Ada kepentingan di sana. Ada pesan di sana. Disadari atau tidak, bahasa membawa pesan. 

Saya tak ambil pusing dengan kredo kematian pengarang ala Barthes. Namun, yang saya persoalkan, semestinya penulis (wartawan, redaktur, dan sejenisnya) sadar akan konsekuensi tulisan yang dibuatnya. 

Wartawan menulis, redaktur menakarnya, lantas diturunkan di media. Ada tanggung jawab di sana, ada konsekuensi di sana. Sebab, sekali lagi, bahasa bukan sesuatu yang bebas nilai. 

Terkadang bahasa juga sangat jahat, bias, dan imperialis. Masih ada koran yang menyebut sebagian Papua sebagai primitif; "memakai baju pun belum", dan yang sejenisnya. Saya pernah membaca laporan sebuah koran nasional tentang Papua. Seorang wartawati koran itu menggambarkan kurang-lebih tentang "tidak risinya beberapa orang Papua memakai koteka di tengah orang ramai". Sebuah gaya penulisan yang imperialis, dan karena itu menganggap dirinya pusat: selalu memandang sesuatu dari dirinya, meski sebenarnya definisi dirinya juga tidak utuh. 

Saya jengah membaca laporan yang dengan jelas-jelas menulis "orang-orang primitif".

Inilah sisa-sisa praktik rekayasa sosial yang dihunus dari pedang milik serombongan manusia yang percaya A adalah baik dan B adalah buruk--dan karena itu B harus di-A-kan. Sebuah praktik yang bahkan menjauhi Tuhan, yang sejak semula bertitah tentang betapa retaknya manusia, betapa tidak utuhnya manusia, betapa terbatasnya manusia. 

Laporan tentang "indahnya foto kita kalau objeknya adalah pemakai koteka di antara kehidupan modern" adalah contoh tulisan purba yang semestinya sudah enyah di zaman sekarang. Bukan hanya menggerus otonomi-individual (sebagai wujud hakiki Kemanusiaan), tapi juga membahayakan masyarakat karena ini adalah bentuk persuasi yang bakal kembali menggelorakan skema ordinat-subordinat.

Kali lain saya pernah membaca laporan sebuah koran nasional tentang ratusan orang Tengger di Semeru yang berganti keyakinan menjadi pemeluk Islam; yang difasilitasi sebuah lembaga dakwah. Namun, alih-alih mampu membaca fenomena pelik semacam ini, koran justru melegitimasi politik-agama yang jahat semacam itu. Islamisasi menjadi lewat dari pembahasaan, dan rekayasa sosial seolah diberi karpet merah seraya ditulis dengan bahasa yang satir di halaman koran. 

Orang Tengger adalah subyek, bukan obyek. Semestinya koran memotret mereka sebagai subyek yang berbicara atas diri mereka sendiri. Mereka justru dieksploitasi. Koran tak punya konsep tentang the others. Ironis sekaligus lucu. 

Sof mungkin luput melihat hal ini. Begitu juga soal diksi "pesta lebaran" atau "halal bi-halal". Pesta lebaran, dalam hemat saya, adalah diksi yang tepat untuk menggambarkan pejabat yang berpesta-pora (lengkap dengan penyanyi dan makan-minum mewah) di tengah kemiskinan rakyat yang akut--meski itu kemudian dikemas sebagai silaturahmi setelah salat id.

Bukankah elan yang disandang jurnalis adalah menyajikan ironi? 

Saya ingin mengambil satu contoh tulisan berumbul Dubes AS Datang, Bom Teror Freeport yang dimuat sebuah koran nasional, 13 September 2008, di halaman 16. Subjudulnya Jembatan dan SPBU Sopir Diledakkan. Sebuah foto besar melengkapi tulisan itu. Ada gambar empat aparat keamanan bersenjata masuk ke kendaraan yang akan membawanya menuju area tambang Freeport di Timika, Papua. Captionnya berjudul Bala Bantuan.

Oke, kita masuk ke inti tulisan. Kata utama yang jadi inti berita adalah "teror", yang kurang lebih berarti gangguan, ancaman. Pelakunya disebut teroris. Kedatangan Dubes AS Cameron Hume ke areal kerja perusahaan tambang raksasa tersebut, berdasarkan berita itu, diduga disambut dengan teror berupa ledakan di jembatan yang menghubungkan Timika dan Tembagapura. Bahkan, ada kata-kata "teror kedua" berupa peledakan di penampungan solar milik Freeport di Mile 50. Juga, ada serentetan tembakan. 

Masalahnya, bagi saya, mengapa kata "teror" disematkan begitu saja ke orang-orang-kalaupun dugaannya benar-yang mencoba mengkritisi keberadaan Freeport. Bukankah lebih baik aksi itu dibingkai dengan kata "mengkritisi". Lebih tegasnya, mengapa koran itu tak coba membalik angle penulisannya? 

Saya buatkan contoh penulisannya: Keberadaan Freeport yang dalam banyak kajian disebut merusak lingkungan itu terus mendapat tentangan dari sejumlah pihak. Buktinya, kedatangan Cameron Hume kemarin ke lokasi areal pertambangan itu disambut dengan aksi protes. Pihak yang memprotes berupaya menarik perhatian dunia dengan memanfaatkan kedatangan Hume. Sejumlah ledakan kecil terjadi. 

***
Tapi, Sof juga sebuah kritik. Sof adalah kritik tentang industri media hari ini yang masih centang-perenang; sebuah dunia di mana antarpihak membangun hubungan imperial; dan dengan demikian antagonis. 

Saya kadang sulit membayangkan Sof luntang-pukang menulis beragam berita dengan beragam tema. Wilayah peliputannya sangat luas, meski dibingkai dengan sangat halus: "ekonomi-makro". 

Ia menulis apa-saja omongan Sri Mulyani Indrawati yang layak menjadi berita. Ia mencermati setiap kata yang meluncur dari Anggito Abimanyu, Mardiasmo, Herry Purnomo, Darmin Nasution, dan Anwar Suprijadi.

Ia berpikir kritis tentang obralan kata Andi Rahmat, Harry Azhar Azis, Endin Soefihara, Dradjat Wibowo, dan sesekali Bambang Soesatyo. Ia seperti mahasiswa ekonomi yang takzim mendengar omongan Boediono, Miranda Goeltom, Hartadi Sarwono, Muliaman D. Hadad, Siti Fadjriah, hingga Ramzi Zuhdi. Ia bahkan sangat cermat mendengarkan perkataan Anwar Nasution dan Baharuddin Aritonang. Namun, ia tak kalah antusias menghampiri Taman Suropati untuk mendengar Paskah Suzetta, Bambang Prijambodo, dan kadang Syahrial Loetan. 

Itu tak cukup. Ia, dengan konsistensi yang sangat tinggi, kerap menelepon Fauzi Ichsan, berkirim pesan pendek ke Tony Prasetiantono atau Ryan Kiryanto, dan sesekali meminta komentar Aviliani, Ahmad Erani Yustika, atau Iman Sugema.

Inilah sebenarnya cermin dunia media yang terbelah. Pelik, memang. Melibatkan banyak hal: pekerja media, bos media, perlunya serikat pekerja, pemerintah, hingga masyarakat kita yang, kata Taufiq Ismail, masih tuna membaca-cacat menulis.

Bagaimana mungkin, misalnya, Sof harus menulis laporan tentang pernyataan Sri Mulyani terkait utang luar negeri, dan di saat yang sama Paskah sedang ramai digunjingkan terlibat sebuah kasus semasa ia masih berkantor di Senayan? Sri Mulyani di Lapangan Banteng, dan Paskah di Taman Suropati; di saat yang bersamaan.

Tapi tak ada alasan. Koran atau media harus ada isinya. Dan harus aktual untuk memenuhi syarat budaya pop: tren! Saat itu ramai Paskah, ya berita Paskah harus ada. Tapi, ingat, berita utang luar negeri dibutuhkan di halaman yang lain. Aneh tapi nyata.

Tapi Sof bukan penulis laporan yang remeh pada prinsip. Setahuku, ia pantang melakukan kloning berita. Kalau pun benar-benar terdesak, itu pun setelah berusaha mati-matian, baru ia meminta izin temannya untuk meminta berita yang tak sempat ia gamit.

Inilah kapitalisme dalam bentuknya yang paling riil, dan dengan demikian mengangkasa sifat aslinya: menindas. Pada akhirnya, media massa adalah wajah yang ambigu, untuk tidak mengatakan hipokrit: ia kadang berbicara tentang tidak adilnya hukum di negeri ini justru ketika di dalam-dirinya berserakan buih ketidakadilan yang kronis.

***
Sekian saja saya menulis catatan buruk ini. Sekadar untuk menaruh segala sesuatu pada tempatnya: bahwa saya berguru banyak pada sesosok Sof. Juga, saya merindukan bisa bermain futsal bersama atau makan malam lagi di rumahnya.

baca selengkapnya..